27 February 2020, 08:00 WIB

Catatan Ingatan Srihadi, sang Maestro Seni Rupa Indonesia


Galih Agus Saputra | Weekend

DALAM beberapa tahun belakangan ini, perupa sekaligus penerima tanda-jasa 'Bintang Gerilya RI (1958)' Srihadi Soedarsono tampak lebih produktif dalam berkarya. Bukan hanya senapas dengan produktivitas, tetapi lukisan-lukisan itu juga lahir berkat kontemplasi atas persoalan dalam negeri, baik yang berkenaan dengan masalah sosial, politik, maupun kebudayaan yang tensinya cukup naik sepanjang 2016 hingga 2019.

Kurang lebih, seperti itulah penjelasan Kurator, Rikrik Kusmara terkait karya Maestro Seni Rupa Indonesia tersebut. Pada kesempatan ini, Rikrik didapuk untuk mengurasi pameran tunggal perupa kelahiran Solo 4 Desember 1931 itu, yang dikemas dengan tajuk 'Srihadi Soedarsono-Man x Universe'.

Pameran ini akan dihelat di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada 11 Maret hingga 9 April mendatang. Secara keseluruhan ada 44 karya yang hendak ditampilkan. Sebanyak 38  di antaranya adalah karya baru Srihadi, yang menurut Rikrik, merupakan suatu rangkaian menarik untuk dikaji karena menempatkan lapisan makna konteks, metafor, dan simbol dalam gubahan representasi estetik yang subtil.

Dalam konferensi pers di JJ Royal Brasserie, Kuningan, Jakarta, Rabu (26/2), Rikrik menjelaskan bahwa yang tidak kalah menarik dari karya seorang Srihadi ialah berbagai macam renungannya dibingkai menggunakan bentang alam (landscape). Srihadi juga menempatkan empat aspek utama dalam karyanya, berkenaan dengan Kritik Sosial, Dinamika, Manusia dan Alam, serta Kontemplasi.

Dalam kritik sosial, Srihadi punya Papua Series, Bandung Series, dan Field of Salt. Dalam Dinamika, ia punya Jatiluwih Series dan Energy of Waves. Sementara dalam Manusia dan Alam, Srihadi punya Mountain Series, Tanah Lot Series, dan Gunung Kawi Series. Sedangkan dalam Kontemplasi, ia memuat Horizon Series dan Borobudur Series.

'Srihadi Soedarsono-Man x Universe' merupakan pameran ketiga Srihadi dalam dekade ini. Sebelumnya, ia pernah menggelar 'Retrospective 80th Anniversary Exhibition' pada 2012 dan 'Srihadi Soedarsono-70 Years Journey of Roso' pada 2016. Dalam pameran ketiga ini pula, rangkaian acara juga hendak diisi dengan peluncuran buku 'Srihadi Soedarsono-Man x Universe'.

Buku tersebut ditulis oleh Istri Srihadi, Farida Srihadi bersama Budayawan cum Kolumnis, Jean Couteau. Dalam buku tersebut mereka mengurai bagaimana hubungan spiritual Srihadi sebagai seorang manusia, termasuk bagaimana siklus hidupnya, serta bagaimana hubungannya dengan alam semesta.

"Gelaran ini merupakan sebuah apresiasi terhadap pencapaian Srihadi Soedarsono melalui karya-karyanya. Srihadi merupakan pelukis yang konsisten dan sangat produktif berkarya hingga usia menjelang sembilan dasawarsa," tutur Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto.

Pustanto menjelaskan melihat Srihadi pada dasarnya bukan hanya melihat pelukis yang memamerkan karya.  Sebab, perjalanan berkeseniannya telah melewati berbagai masa berharga yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi pemirsanya.

"Universe itu catatan tentang ingatan-ingatan, layaknya seseorang yang mengingat memorinya sebelum menulis. Ini cara saya mencatat perjalanan dari kanak-kanak sampai sekarang usia 88 tahun," tutur Srihadi, yang pada masa menjelang kemerdekaan kerap memural tembok maupun gerbong kereta dengan pesan atau semangat perjuangan itu. (M-4)

BERITA TERKAIT