26 February 2020, 17:57 WIB

Evaluasi Keberadaan Proyek di Samping Sarana Pendidikan


Aries Wijaksena | Megapolitan

GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan didesak mengevaluasi pembangunan lokasi khusus pembuatan beton readymix (batching plant) di Jl. Mabes Hankam yang berlokasi dengan sarana pendidikan Yayasan Nizamia Andalusia karena dipandang tak sesuai aturan lingkungan sekolah mengganggu aktifitas belajar mengajar.

Anggota DPR RI dari daerah pemilihan DKI Jakarta Ahmad Sahroni menyampaikan, pemerintah dalam hal ini Pemprov DKI harus benar-benar memastikan kualitas pendidikan, tak hanya dari aspek pengajar maupun kurikulum, namun juga keberadaan bangunan dan lingkungan di sekitarnya. Bangunan sekolah seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24/2007 harus terbebas dari potensi bahaya, termasuk dari pencemaran udara dan air. Karenanya ia mengingatkan, perizinan atas pembangunan yang berdekatan dengan lokasi sekolah harus menyertakan persyaratan di dalam Permendiknas tersebut.

“Di Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 jelas menyatakan lahan sekolah harus terhindar dari potensi berbahaya yang mengancam kesehatan. Lahan juga jarus terhindar dari gangguan-gangguan seperti pencemaran air hingga kebisingan,” tegas politisi NasDem ini, Rabu (26/2).

Pernyataan itu menurut Sahroni menindaklanjuti surat diterimanya dari Yayasan Nizamia Andalusia yang keberatan atas pembangunan lokasi khusus pembuatan beton readymix (batching plant) di samping bangunan saranan pendidikan di Jalan Mabes Hankam. Selain Sahroni sebagai wali murid, surat tersebut juga disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta dan Kepala Staff TNI Angkatan Darat (KSAD).

Dalam surat tersebut, Yayasan Nizamia Andalusia menyampaikan hasil pertemuan dengan Kodam Jaya selaku pemilik lahan yang berlokasi di Jl. Mabes Hankam, Cipayung, Jakarta Timur dan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk pada Rabu, 19 Februari 2020. Dalam pertemuan itu Kodam Jaya diwakili oleh Mayor Hariyono menyatakan bahwa pihak Kodam Jaya selaku pemilik lahan yang berlokasi di Jl. Mabes Hankam, Cipayung, Jakarta Timur telah bekerjasama dengan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk.

“PT Solusi Bangun Indonesia Tbk diwakili oleh Bpk. Rizal selaku GA membenarkan telah melaksanakan pembangunan di lokasi tersebut dan menyampaikan proses
beroperasinya/ pabrikasi batching plant batu buatan/ beton ready mix dalam jumlah yang besar. PT Solusi Bangun Indonesia Tbk menyampaikan bahwan batching plant tersebut memiliki masa beroperasi minimum 3 tahun,” ucap Sahroni menyampaikan isi surat diterimanya.

Seluruh wali murid oleh Ibu Della Sabrina Irfan Hakim selaku ketua Parents Association (Komite Sekolah) dan Ibu Lisa Wieko dikatakan Sahroni menolak tegas pembangunan batching plant yang telah disampaikan oleh perwakilan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Pertimbangannya, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk tidak dapat memberikan jaminan atas hal-hal krusial seperti penurunan kualitas udara, peningkatan kebisingan, penurunan kualitas air tanah, dan potensi limbah padat dan B3 atas ceceran oli maupun cairan kimia yang menurunkan kualitas tanah.

“Sekolah itu telah beroperasi sejak tahun 2014. Pembangunan yang dilakukan di sekitarnya seharusnya memperhatikan aspek lingkungan sekolah yang keseluruhan peserta didiknya merupakan anak-anak. Ketika dunia  virus corona, pemerintah DKI sepatutnya menjaga kualitas udara, khususnya lingkungan sekolah dari proyek pembangunan,” pesan Sahroni.

“Aktifitas pembangunan misalnya, dapat menyebabkan gangguan pernafasan pada peserta didik. Terlebih disampaikan proyek pembangunan itu akan berjalan selama tiga tahun. Gubernur DKI harus mengambil sikap dengan membatalkan proyek pembangunan tersebut bila ingin generasi penerus tidak terserang penyakit pernafasan atau lainnya,” timpalnya.

Ketua Yayasan Nizamia Andalusia, Fatma Fadjarrini menyampaikan jumlah siswa, guru dan staff yang beraktifitas di sarana pendidikan yang terancam berbagai gangguan akibat pembangunan proyek tersebut sebanyak 1.261 orang. Jumlah itu belum termasuk orangtua dan kerabat siswa yang mengantar atau menjemput setiap harinya. Digambarkannya, aktifitas belajar-mengajar sejak pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB tersebut hanya berjarak
20 meter dari lokasi pabrikasi batching plant batu buatan/ beton ready mix tanpa pembatas kecuali kecuali dinding penyekat. (A-2)

BERITA TERKAIT