26 February 2020, 10:12 WIB

Orang Betawi Perkuat Identitas dan Gali Nilai Kemanusiaan


Deri Dahuri | Humaniora

BETAWI telah lama menjadi inspirasi bagi para penulis. Pada masa dasawarsa 1950-an, sketsa tentang orang Betawi atau warga Jakarta dilakukan Firman Muntaco dan terhimpun dalam Gambang Jakarte. Sementara tak terlalu lama setelahnya, muncul pula esais cemerlang, Mahbub Djunaidi.

Baik Mahbub maupun Muntaco sama-sama menulis dari sudut pandang yang sama, yakni orang Betawi menceritakan orang Betawi, atau, dari sudut pandang 'orang dalam'. Bedanya adalah jika Muntaco mengutamakan cerita, Mahbub mendedahkan pemikirannya dalam esai yang sesekali diberi ilustrasi tentang kehidupan orang Betawi.

Namun selain itu, ada juga sketsa tentang kehidupan orang Betawi dan warga urban Jakarta hari ini yang ditulis dari pandangan orang luar Betawi. Itu adalah esai-esai Seno Gumira Ajidarma yang dikumpulkan dalam buku berjudul Obrolan Sukab (2019).

Dalam tulisannya di Beritagar, Zen Hae menyebut pada Muntaco, bahasa Betawi menjadi sangat hidup dalam melukiskan romantika kehidupan masyarakat Jakarta setelah kemerdekaan.

Pada Mahbub Djunaidi, daya humor terasa sangat subversif, baik yang menyangkut orang Betawi maupun kondisi sosial politik Indonesia pada masa Orde Baru; sementara Seno menetapkan pilihannya pada Sukab dan kawan-kawannya yang segera bisa ditunjuk sebagai 'masyarakat pinggiran' atau 'wong cilik' setelah gerakan reformasi.

Upaya untuk terus melukiskan kaum Betawi ini juga kembali digiatkan melalui lomba penulisan cerpen Betawi yang digelar dalam rangka Pekan Sastra Betawi 2019.

Bercerita tentang pergulatan orang Betawi mempertahankan diri dan identitasnya, karya-karya itu disumbang tidak hanya oleh para penulis asal Betawi, tetapi juga yang berasal dari suku lain. Artinya, Betawi telah menjadi daya magnet yang luar biasa.

Dalam sebuah diskusi soal media yang dihelat oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah pada 2018, ternyata citra orang Betawi masih sangat negatif. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Salah satunya, seperti dikatakan Mahbub Djunaidi, orang Betawi sudah tersingkir akibat pembangunan.

Kepada media di Jakarta, Rabu (26/2), Ketua Perkumpulan Betawi Kita, Roni Adi mengatakan, “Orang Betawi seringkali dipersepsikan secara salah."

"Karena itu, upaya melihat kembali potret orang Betawi dalam tulisan menjadi penting untuk memahami dan memaknai suara jernih dari 'sisi orang dalam Betawi' ini untuk memperkuat karakter kita, baik sebagai orang Betawi maupun sebagai bagian dari bangsa besar Indonesia yang kian hari terasa mengalami krisis nilai-nilai,” papar Adi.

Untuk itulah, perlu upaya untuk merumuskan kembali citra positif orang Betawi. Mencari kembali potret Betawi dalam tulisan, lantas memaknainya untuk memperkuat karakter sebagai orang Betawi sebagai bagian dari orang Indonesia. Yang teristimewa, sebab di Jakarta-lah, Indonesia lahir—demikian menurut Sukarno.

Pada diskusi pekan lalui, sekaligus Kongko Betawi Kita ke-35 di Aula Perpustakaan Daerah Cikini, Taman Ismail Marzuki, telah menghadirkan dua pembicara yakni, Yahya Andi Saputra,Ketua Bidang Pengembangan dan Penelitian Lembaga Kebudayaan Betawi, serta Idrus Fahmi Shahab, mantan wartawan Tempo serta penulis Ole-Ole Betawi dan Orkes Pemilu.

Dalam diskusi Betawi Kita adalah wadah tukar pikiran yang terbuka dan ingin mengembangkan budaya maen pikiran atau wacana intelektual kaum Betawi. Eksplorasi kebetawian dalam Betawi Kita ditempatkan dalam konteks kejakartaan dan keindonesiaan, sebagai bagian upaya memperjuangkan kemanusiaan dalam arti luas. Betawi Kita berbentuk perkumpulan sudah berbadan hukum tetap sejak 2017.i

Hingga saat ini Betawi Kita sudah mengadakan kongko atau diskusi tukar pikiran sebanyak 37 kali, membuat Festival Peristiwa Di Balik Ikada pada 2018, Pameran 125 Tahun MH Thamrin pada 2019, dan Pekan Sastra Betawi pada 2019. (OL-09)

BERITA TERKAIT