26 February 2020, 08:46 WIB

Susur Sungai SMPN 1 Turi Tanpa Persiapan


AU/N-3 | Nusantara

KEGIATAN susur Sungai Sempor yang berujung maut di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (22/2) tidak diawali perencanaan yang matang.

Wakil Kepala Kepolisian Resort Sleman, Komisaris Akbar Bantilan menjelaskan, polisi telah memeriksa lebih dari 25 orang saksi dan sejumlah dokumen terkait kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan susur sungai yang diikuti 249 anggota Pramuka yang merupakan siswa SMP Negeri 1 Turi itu, tidak pernah di-rencanakan. Kegiatan tersebut diputuskan sesaat menjelang kegiatan kepramukaan di sekolah itu pada Jumat (22/2).

"Inisiatornya tersangka berinisial IYA," kata Akbar. Menjelang pelaksanaan susur sungai, lanjutnya, IYA pamit meninggalkan lokasi karena harus melakukan kegiatan lain, yakni mentransfer uang.

Menurut tersangka lainnya bernisial R, lanjut Akbar, setelah ada ide untuk menggelar susur sungai, para pembina lainnya tidak kuasa menolak dan menyetujui rencana itu.

Dari keterangan tersangka dan saksi, diketahui susur sungai merupakan kegiatan tahunan yang merupakan improvisasi dari pembina Pramuka.

Dalam kegiatan itu, R sela-ku pembina Pramuka bertugas menjaga barang-barang milik siswa di sekolah, sehingga tidak ikut ke sungai. Adapun pembina Pramuka lainnya, yakni DDS bertugas menjaga titik finis.

"Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka," kata Akbar. Lebih lanjut dia mengatakan, saat 249 siswa melakukan susur sungai, mereka hanya dipandu empat orang.

"Bagaimana mungkin empat orang menjaga 249 anak?" papar Akbar. (AU/N-3)

BERITA TERKAIT