26 February 2020, 08:09 WIB

Warga AS Diminta Bersiap Hadapi Virus Korona


Nur Aivanni | Internasional

PARA pejabat kesehatan di Amerika Serikat (AS) memperingatkan warga negara itu untuk bersiap menghadapi penyebaran penyakit virus korona "yang tidak terhindarkan" yang tengah melanda dunia.

Ada 53 kasus yang dikonfirmasi di AS dan para pejabat meminta Kongres AS untuk segera mengeluarkan miliaran dolar dalam upaya merespons kondisi tersebut.

Meski Presiden AS Donald Trump mengatakan situasinya sangat terkendali di AS, kekhawatiran terhadap virus tersebut telah berdampak ke pasar saham yang anjlok untuk hari kedua berturut-turut.

Pada Selasa (25/2), para ahli Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperingatkan warga AS mengenai wabah virus korona.

"Kami meminta masyarakat AS mempersiapkan perkiraan bahwa ini mungkin akan buruk," kata Nancy Messonnier dari Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernapasan, seperti dikutip dari BBC, Rabu (26/2).

Baca juga: Wakil Menkes dan Satu Anggota Parlemen Iran Positif Virus Korona

"Ini bukan pertanyaan apakah ini akan terjadi di negara ini lagi, tetapi pertanyaannya kapan ini akan terjadi," tambahnya.

Sejauh ini, 14 pasien telah didiagnosa dengan Covid-19 di AS, sementara 39 orang lainnya telah didiagnosa di luar AS tetapi sedang dirawat di negara tersebut.

Lebih dari 2.700 orang telah meninggal akibat virus korona dan sekitar 80.000 telah terinfeksi yang sebagian besar berada di Tiongkok.

Di luar Tiongkok, Iran, Korea Selatan, dan Italia telah melaporkan jumlah kasus terbesar yang menyebabkan kekhawatiran bahwa virus itu bisa menjadi pandemi.

Sekretaris Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) Alex Azar mendesak agar anggaran sebesar US$2,5 miliar untuk memerangi wabah virus korona segera disetujui.

Ia pun mengatakan AS perlu memperluas persediaan peralatan pelindungnya, seperti masker bedah.

Saat ini, sambungnya, AS memiliki persediaan sekitar 30 juta masker, tetapi sebenarnya yang dibutuhkan adalah sebanyak 300 juta masker untuk memasok ke petugas kesehatan. (BBC/OL-1)

BERITA TERKAIT