26 February 2020, 06:40 WIB

Hipertensi tidak Bisa Disembuhkan, tapi Dikontrol


(Ifa/H-2) | Humaniora

KASUS penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di Asia Pasifik semakin menghawatirkan dengan jumlah penderitanya kini mencapai 65% dari total populasi dunia. Lebih dari tiga perempat kenaikan prevalensi hipertensi di Asia karena pertumbuhan populasi dan penuaan, serta pengaruh gaya hidup yang tidak sehat.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Erwinanto SpJP (K), FIHA menegaskan, penyakit hipertensi tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikontrol lewat penggunaan obat.

"Hipertensi itu bukan disembuhkan, tapi dikontrol. Jadi enggak ada orang hipertensi sembuh," katanya saat ditemui di Jakarta, Senin (24/2).

Di Indonesia sendiri, hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebutkan prevalensi hipertensi mencapai 34,1%, yang mengindikasikan adanya peningkatan penyakit kronis ini di Indonesia.

Masih merujuk pada data Riskesdas 2018, imbuh Erwinanto, hampir 80% pasien hipertensi di Indonesia berhenti minum obat karena merasa sembuh. Padahal, hipertensinya masih ada.

"Begitu diturunkan menjadi normal dia bilang, saya sembuh! Dia tidak tahu bahwa itu ialah dikontrol. Obatnya diberhentikan, tekanan darahnya naik lagi," ucap pengurus Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi) itu.

Peran penting obat dalam mengendalikan hipertensi terungkap dalam penelitian yang dipimpin Jinho Shin, profesor Kardiologi dari Hanyang University Seoul Hospital, Korea Selatan.

Penelitian terhadap efektivitas penggunaan obat Nebivolol dilakukan terhadap 3.011 pasien hipertensi di Korsel pada 2015-2017.

Nebivolol ialah salah satu obat hipertensi yang berfungsi sebagai beta blocker (penghambat beta) untuk mengontrol tekanan darah. Dari riset itu diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan nebivolol pada pasien Asia menunjukkan hasil yang efektif dalam mengontrol tekanan darah.

"Efek paling besar terlihat saat nebivolol diberikan sebagai pengobatan tunggal kepada pasien baru dan sebagai obat tambahan untuk pengobatan antihipertensi, yang meliputi penghambat renin-angiotensin system (RAS blocker), penghambat kanal kalsium (calcium channel blocker CCB), serta kombinasi antara RAS blockers dan CCB. Beberapa penelitian telah memperlihatkan manfaat dari pengobatan kombinasi nebivolol dan RAS blockers, CCBs, dan diuretik dalam menurunkan tekanan darah," ungkap Jinho Shin, lewat teleconference dari Korsel.

Hasil penelitian ini dipublikasi oleh Menarini lndonesia, bagian dari Menarini Group , perusahaan biofarmasi Italia terbesar di dunia. (Ifa/H-2)

BERITA TERKAIT