25 February 2020, 22:35 WIB

Menggali Karya Gerson Poyk di Museum Mini


Eko Suprihatno | Humaniora

"SAYA tahu kau bisa menjaga semua tulisan saya ini. Jadi tolong simpan dan bawa ke penerbit-penerbit biar dicetak dan dibaca orang banyak, bisa dijadikan skripsi atau tesis, seperti orang Jerman yang bernama Thomas, suami dari Yanti My dosen di Frankfurt University, dia memakai karya bapak untuk program doktornya. Tolong ya Nak, simpan baik-baik," ujar Gerson Poyk pada suatu hari kepada putrinya, Fanny Jonathans Poyk.

Fanny pun segera menyimpan karya-karya sang ayah itu di rumahnya dan mulai berpikir bagaimana mengolahnya. Saat itulah ia mulai berpikir kalau seperti ada sesuatu yang akan menimpa orangtuanya. Benarlah, karena pada 24 Februari 2017 sastrawan Indonesia tersebut meninggal.

Itulah penggalan dari obrolan dengan Fanny yang awal pekan ini melansir Museum Mini, Rumah Tulis dan Baca Gerson Poyk di Pancoranmas Depok, Jawa Barat.

Warisan yang sangat berharga buat dunia sastra Indonesia itu diakui Fanny sempat membuatnya pusing tujuh keliling. Pasalnya, tak mudah mencari penerbit yang mau menerbitkan karya sekelas sastra.

"Saya mencari para sahabat yang bergerak di dunia penerbitan yang saya kenal. Melalui link atau jalur pertemanan di dunia kepenulisan, akhirnya tulisan-tulisan Bapak saya bawa ke penerbit Prenada Media/Kaki Langit Kencana dan bertemu dengan Safrudin Ashar, Alex Japalatu dari BPK Gunung Mulia, Penerbit Erlangga, dan Penerbit Kompas," tutur Fanny.

Puluhan naskah yang disebut Bapak sebagai 'harta karun' itu akhirnya diambil beberapa untuk diterbitkan. Bagi Fanny, penerbitan buku-buku itu karena ia berharap sang ayah ada penghasilan dan karyanya dibaca orang banyak. "Bapak seperti enggak peduli soal royalti," ujarnya.

Membangun museum ini pun diakui Fanny dengan langkah terseok-seok. Tak mudah mencari donatur yang peduli dengan perkembangan sastra Indonesia. Dengan berbagai upaya yang tak mudah, ia pun bisa mewujudkan mimpinya.

"Yang pasti bantuan datang selain sisa tabungan saya. Bahkan ada orang yang membantu proses berjalannya museum, rumah tulis dan baca ini pun bukan dari kalangan sastra. Mereka para sahabat saya yang saya yakin peduli dengan kiprah bapak di dunia sastra," tambah Fanny lagi.

Fanny yang pernah menjadi redaktur di sejumlah media massa, tahu betul bahwa literasi harus menjadi jawaban terhadap minimnya wawasan. Sarjana jurnalistik jebolan IISIP Jakarta ini berharap museum dan rumah baca ini menjadi tempat diskusi sastra, belajar menulis cerpen, novel, artikel, dll.

Ada ratusan cerpen, esai, puluhan novel yang mendiami lemari jati pemberian sahabat penyair yang menyayangi almarhum Gerson Poyk. Fanny pun mengundang siapa saja yang ingin membaca atau mendalami karya-karya sang ayah untuk datang ke Jalan Pemuda No.100 (Gg Petir), Pancoran Mas, Depok. (OL-8)

BERITA TERKAIT