25 February 2020, 19:53 WIB

Ini Capaian Kinerja Kementerian BUMN 2014-2019


Faustinus Nua | Humaniora

KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2014-2019 mendapat apresiasi karena sejumlah pencapaian yang positif.

"Saya pikir banyak kemajuan di periode 2014-2019. Kita bisa lihat dari aset, kita bisa lihat keuntungannya, kontribusi buat negara," ungkap Direktur Pemberitaan Media Indonesia (MI), Usman Kansong, dalam bedah buku BUMN Untuk Negeri, di Jakarta (25/2).

Usman menjelaskan, alasan MI membukukan capaian semasa kepemimpinan Menteri Rini S Soemarno itu, sebagai bentuk penghargaan yang patut dicatat sebagai warisan serta bagian dari pertanggungjawaban publik dari sebuah institusi negara.

"Ini penting sekali sebagai bentuk legacy tertulis, tetapi juga sebagai bentuk pertanggujawaban kepada publik. Karena BUMN apapun ceritanya hadir untuk publik," tegas Usman.

Tengok saja capaian penting yang telah dilakukan antara lain, selain adanya holding beberapa perusahaan plat merah, prestasi lainnya seperti aset dan pendapatan terus tumbuh. Aset BUMN pada tahun 2018 sebesar Rp8.207 triliun atau naik dari 2014 sebesar Rp4.600 triliun. Selain itu, pendapatan BUMN yang mencapai Rp2.399 triliun juga memberikan sumbangan sekitar 16,17% terhadap produk domestic bruto nasional pada 2018

Sementara itu, Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo menerangkan, sejak tahun 1998, Kementerian BUMN dibentuk untuk menjadi kekuatan dalam mendukung ekonomi Tanah Air. Apalagi pada saat itu terjadi krisis yang cukup parah dan Indonesia harus berutang kepada IMF.

Dengan ditunjuknya Tanri Abeng sebagai Menteri BUMN pertama, road map pun mulai disusun. Sejak saat itu, sebenarnya ide atau pemikiran terkait holding sudah ada.

"Yang dilakukan Pak Tanri Abeng ketika itu adalah bagaimana memnbentuk holding. Indonesia mempunya 14 PTP (PT Perkebunan), tapi dengan begitu banyak PTP dengan ukuran kecil-kecil PTP tidak bisa bersaing. Padahal kalau PTP digabung bisa menjadi kekuatan yang sebenarnya mempunyai daya saing yang luar biasa. Pikiran besar itu sudah sejak Pak Tanri," jelasnya.

Melalui buku 'BUMN Untuk Negeri', lanjutnya menjadi catatan penting meski hanya penggalan di era 2014 - 2019. Menurutnya, Indonesia mepunyai cita-cita untuk menajdi pemain besar yang bukan hanya jago kandang.

"Ada kasus Garuda, Jiwasraya jadi bagian dari proses ini. 142 (perusahaan) ini sangat banyak dan tidak semua malaikat. Tapi jangan karena satu, dua perusahaan yang bermasalah, kemudian melupakan bahwa dari 142 ada sesua yang dicapai," imbuhnya.

.(van)

BERITA TERKAIT