25 February 2020, 18:00 WIB

Menangkal Epidemi Covid-19 Daya, Data, dan Doa


Anis Fuad Dosen di Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada | Opini

DALAM dua bulan ini, dunia dihantui ancaman pandemi covid-19, penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus korona baru (SARS-Cov2). Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), penularan masih terus berlangsung. Laporan situasi pada 20 Februari 2020 mencatat bahwa kasus covid-19 terkonfirmasi secara global mencapai angka 75 ribu dengan 2.129 kematian. Meskipun 98% kasus terjadi di Tiongkok, lebih dari 26 negara lainnya telah melaporkan, termasuk beberapa negara di ASEAN.

Hingga saat ini, covid-19 secara resmi belum ditemukan di Indonesia. Padahal, secara geografis, Indonesia berdekatan dengan episentrum ledakan infeksi covid-19. Dengan penerbangan langsung, sebelum ditutup, perjalanan dari Kota Wuhan ke Bali dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 6 jam. Pada saat libur Imlek 2019, sekitar 200 ribu turis dari Tiongkok berkunjung ke Indonesia. Selain wisata, ada beragam motif melandasi kunjungan ke Indonesia ke berbagai wilayah.   

Sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar keempat di dunia disertai wilayah geografi terluas di Asia Tenggara dengan banyaknya titik kedatangan posisi Indonesia menjadi sangat rentan, secara teoretis, kasus covid-19 positif seharusnya sudah ditemukan di Indonesia. Hasil kajian dari tim peneliti Harvard TH Chan School of Public Health mengestimasi 5 kasus. Namun, kenyataannya tidak ada kasus sampai sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi?

Saat diwawancarai, Menteri Kesehatan  menyebutkan dua hal, yaitu imunitas dan doa yang masih melindungi Indonesia. Imunitas berkaitan dengan daya tahan manusia menghadapi paparan virus korona. Dengan terkonfirmasinya kasus covid-19 pada WNI Indonesia yang bekerja di kapal pesiar dan di Singapura, tidak ada alasan bahwa orang Indonesia kebal terhadap virus korona.


Segitiga epidemiologis

Salah satu konsep mengenai sebab musabab terjadinya penyakit ialah segitiga epidemiologi. Agen penyebab penyakit (dalam hal ini ialah SARS-Cov2), inang yang rentan (yaitu manusia) dan faktor lingkungan berinteraksi secara kompleks untuk berkembang menjadi penyakit di tubuh manusia.

Individu dengan penyakit, seperti diabetes, tuberkulosis, dan penyakit lain yang menyebabkan daya tahan tubuh lemah, menjadi sangat rentan terinfeksi virus korona baru.

Faktor individual lainnya, seperti genetik, lansia, status gizi, struktur anatomi, sedang dalam pengobatan, sampai dengan faktor psikologis juga menentukan kerentanan dan respons individu terhadap paparan. Untuk melindungi diri, kesadaran dan perilaku higienis personal yang baik seperti cuci tangan dan menghindari kontak dengan pembawa agen penyebab menjadi penting.

Di sisi yang lain, daya tular virus korona juga memainkan peran penting. Tim peneliti di Tiongkok melaporkan bahwa di Kota Wuhan setiap pasien rerata menularkan kepada 2,2 orang lainnya. Namun, efektivitas penularan semenjak sel yang mengandung virus korona keluar dari tubuh, misalnya melalui batuk atau bersin, sampai dengan masuk ke individu lainnya sangatlah kompleks.

Hal ini berkaitan dengan jarak, frekuensi paparan, dalam ruangan tertutup atau terbuka, sampai dengan jenis kontaknya langsung atau tidak langsung. Ada studi yang memodelkan posisi tempat duduk yang aman di pesawat agar tidak tertular. Namun, studi pada setting lainnya belum banyak dipublikasikan.

Hal yang lebih merumitkan ialah penularan bisa terjadi dari orang yang tidak dengan mengalami gejala-gejala infeksi. Oleh karena itu, semakin banyak asumsi yang dilibatkan dalam suatu model, prediksi penularan akan semakin akurat.  

Di sisi lain, ada pula fenomena super spreader (penyebar super), yaitu penular yang sangat masif. Di Korea Selatan, pada saat epidemi MERS (middle east respiratory syndrome), terdapat 1 pasien yang menginfeksi 82 kasus lain, termasuk staf RS, pengunjung, dan pasien terdekat. Hal tersebut terjadi karena tidak diisolasi atau dikarantina dengan semestinya. Lonjakan kasus covid-19 di Korea Selatan baru-baru ini juga berkaitan dengan super spreader di kota Daegu.

Pada aspek inilah lingkungan memberikan peran penting dalam segitiga epidemiologi. Baik-buruknya lingkungan fisik, termasuk iklim, biologis, sosioekonomis, kerumunan, sanitasi sampai dengan fasilitas kesehatan, akan memengaruhi proses penularan.

Pada wabah SARS, kejadian mulai ditemukan pada awal musim dingin, yaitu November 2002. Kemudian kasus meningkat secara fluktuatif dengan beberapa puncak pada Februari, Maret dan, April. Kemudian surut pada Juli 2003.      
 
Dalam dua bulan ini, banyak hal baru yang terungkap. Namun, masih banyak hal lagi yang belum diketahui, termasuk di antaranya ialah belum ditemukannya kasus positif covid-19 di wilayah Indonesia meskipun prediksi mengatakan sebaliknya.

Pada waktu epidemi SARS, dari sekitar 8000-an kasus positif di dunia, Indonesia hanya menemukan 2 kasus impor tanpa disertai penularan lokal. Sampai sekarang, Indonesia juga belum pernah menemukan kasus MERS positif sejak 2013. Padahal, setiap tahunnya lebih dari satu juta orang Indonesia menjadi jemaah umrah dan haji ke Timur Tengah.

Daya upaya pemerintah dalam menangkal epidemi covid-19 ditunjukkan dengan penetapan Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan sebagai laboratorium diagnostik rujukan. Kesiapsiagaan juga telah disiapkan di pintu masuk wilayah dan wilayah perbatasan RI. Demikian juga 100 rumah sakit rujukan telah disiapsiagakan.

Kementerian Kesehatan pun menginstruksikan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota untuk meningkatkan sistem surveilans terhadap influenza like illness (ILI) dan pneumonia dan melaporkannya dalam waktu 1x24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Selain data surveilans rutin, sistem big data di BPJS Kesehatan berpotensi penting. Setiap harinya sekitar 700 ribuan transaksi dari 23 ribu fasilitas kesehatan tingkat pertama dan 2600-an rumah sakit mitranya memuat data diagnosis penyakit.  

Keterlibatan sektor swasta dan nonkesehatan menjadi penting. Apps kesehatan yang menerima telekonsultasi dapat melaporkan kepada pemerintah jika ada peningkatan konsultasi berkaitan dengan gejala flu, batuk, gangguan napas, dan demam.

Data agregat dari sektor transportasi dan telekomunikasi juga dapat digunakan untuk menyusun model mobilitas penduduk. Inilah momentum yang mana Peraturan Presiden No 39/2019 tentang Satu Data juga dapat berkontribusi untuk meningkatkan kesiapsiagaan bangsa terhadap epidemi.

Ketika daya upaya dilakukan, data telah dihasilkan, ada kuotasi menarik dari profesor patologi, Edwin R Fisher. Beliau  mengatakan, “In God we trust, others must provide data.”  Ini seperti mengamini pernyataan Pak Menkes tentang kekuatan doa.
Semoga Indonesia diselamatkan dari epidemi covid-19.

BERITA TERKAIT