25 February 2020, 18:57 WIB

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem di Jakarta


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi hingga periode Maret mendatang.

Berdasarkan hasil analisis perkembangan musim hujan dasarian II Februari 2020, seluruh wilayah zona musim (ZOM)N di Indonesia telah memasuki musim hujan, termasuk wilayah Jabodetabek.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, pada Senin (24/2) dan Selasa (25/2) sejumlah wilayah di Jakarta dilanda hujan intensitas ekstrem dengan curah hujan di atas 150 mm per hari.

“Kondisi curah hujan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Jabodetabek hari ini cukup merata terjadi dari wilayah selatan hingga utara dengan intensitas tertinggi terukur pada 25 Februari pukul 07.00 WIB di wilayah Kemayoran 278 mm,” kata Dwikorita dalam pernyataan tertulis, Selasa (25/2).

Selain itu, hujan ekstrem juga melanda kawasan Pintu Air Pulogadung dengan intensitas 260 mm, Pulomas 245 mm, Manggarai 209 mm, Halim Perdanakusuma 205 mm, Sunter Timur I Kodamar 165 mm, dan Setiabudi Timur 150 mm.

Dwikorita menjelaskan, keberadaan badai tropis Ferdinand yang mulai terdeteksi pada 24 Februari 2020 lalu di Samudera Hindia selatan NTB, serta sirkulasi angin di wilayah Samudera Hindia Barat Daya Banten, menyebabkan pembentukan pola pertemuan massa udara (konvergensi) yang memanjang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Bali, NTB, dan NTT. Belokan angin juga terpantau terbentuk di sekitar wilayah Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

“Cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Jabodetabek beberapa hari terakhir secara dominan dipicu oleh faktor dinamika atmosfer skala lokal, yaitu adanya pembentukan pola konvergensi (pertemuan massa udara) dan kondisi labilitas udara yang kuat terutama di wilayah Jawa bagian barat, termasuk wilayah Jabodetabek,” terangnya.

BMKG pun mengimbau masyarakat agar tetap waspada karena potensi hujan sedang hingga lebat dalam sepekan kedepan secara umum dapat terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

“Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin,” tutupnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT