25 February 2020, 07:35 WIB

Peliknya Menyeimbangkan Karier dengan Kehidupan Pribadi


Fetry Wuryasti | Weekend

Sebuah studi tahun 2015 dari Pusat Kerja dan Keluarga di Boston College, AS, menemukan bahwa hanya 20% milenial yang bersedia kehilangan waktu pribadi demi karier. Walakin, perkembangan teknologi mempersulit milenial (Gen X) dan Gen Z untuk mengakhiri jam kerja, salah satunya berasal dari email atasan di jam 11 malam, atau aktivitas teks di WA group kantor yang nyaris 24 jam.

Jadi, jika Anda ingin agar kehidupan dan kerja seimbang, ada beberapa kiat dari para ahli. Stewart Friedman, direktur Proyek Integrasi Kerja / Kehidupan Wharton dan penulis Parents Who Lead, merekomendasikan agar orang berpikir tentang apa yang benar-benar penting bagi mereka, dan apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka di masa depan.

"Pekerja harus mengidentifikasi siapa yang paling penting, apakah itu bos, pasangan, anak, atau teman terdekat mereka. Penelitian menunjukkan, membangun keharmonisan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, berpengaruh kepada peringkat kinerja dan memiliki kehidupan yang lebih baik," kata Friedman.

Bryan Robinson, seorang psikoterapis, percaya kaum muda cenderung meremehkan akibat jangka panjang dari kebiasaan gila kerja. Pasien yang lebih muda sering menunjukkan konsekuensi dari budaya tempat kerja yang tampaknya mengharuskan karyawan untuk "memproduksi dan bergerak lebih cepat."

“Kami tahu fakta itu akan membuat Anda lelah. Pekerja harus bertanya pada diri sendiri apakah dia mengurus kebutuhan dasar tubuh? Apakah dia lelah, lapar, kesepian, atau marah? Apakah dia merasa sulit berhenti bekerja bahkan saat liburan? Jangan sampai pekerjaan mengambil alih hidup Anda," kata Robinson.

Kathleen Gerson, seorang profesor sosiologi di NYU, berpendapat pengusaha perlu memastikan pekerja mereka memiliki perspektif yang sehat terhadap karier mereka, sementara pekerja pun mesti aktif mengadvokasi untuk perlakuan lebih baik. Salah satunya perihal cuti. Gerson mengatakan, penelitiannya telah menemukan banyak pekerja AS tidak mengambil cuti karena mereka takut akan dampak negatif di tempat kerja.

Atasan, katanya, sering mengirim pesan tersirat bahwa, "ya, [cuti] ini dimungkinkan, tetapi jika Anda mengambilnya, kami akan bertanya-tanya tentang komitmen Anda terhadap pekerjaan." (Time/M-2)

BERITA TERKAIT