24 February 2020, 20:07 WIB

2020, BBWSCC Targetkan Normalisasi Kali Ciliwung 1,5 Km


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

BALAI Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) menargetkan normalisasi Kali Ciliwung sepanjang 1,5 kilometer (km) pada tahun ini. Proyek tersebut menelan anggaran sekitar Rp 30 miliar

Namun, saat ini program normalisasi terkendala pembebasan lahan. Pembebasan lahan untuk sodetan Kali Ciliwung dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui BBWSCC.

"Ya ada target untuk menormalisasi Kali Ciliwung sekitar 1,5 km bisa kita lakukan. Di daerah Pejaten Timur dan Istiqlal," jelas Kepala BBWSCC, Bambang Hidayah, di Balai Kota Jakarta, Senin (24/2).

Pembebasan lahan untuk sodetan Kali Ciliwung di Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, masih menunggu penentuan lokasi (penlok) dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Baca juga: Masih Dibutuhkan Lahan 30,4 Ha Untuk Normalisasi Kali Ciliwung

Pembebasan lahan dilakukan untuk melanjutkan pembangunan sodetan Sungai Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT). Hingga saat ini, kemajuan pembangunan sodetan Ciliwung mencapai 600 meter. Kurang 660 meter dari total sodetan sepanjang 1,26 km dengan berkapasitas 60 m3 per detik.

"Dibebaskan dulu lahannya di Kelurahan Bidara Cina. Kurang lebih 13.000 meter persegi, bukan bidang yah. Bidangnya nanti kalau satgas sudah turun. Rencana kalau penlok sudah keluar, nanti satgas bekerja," papar Bambang.

"Kemudian mengumpulkan berkas kepemilikan tanahnya. Jadi nanti dibikin suatu bidang oleh satgas. Biasanya kan yang pimpin BPN," tambahnya.

Setelah bidang lahan terpetakan, lanjut dia, baru diumumkan jumlah bidang yang digunakan. Nantinya, tim appraisal melakukan kajian untuk menilai kelayakan untuk proses penggantian. Adapun langkah konkret lainnya ialah menormalisasi sungai secara bertahap dan kemudian direvitalisasi.

"Seperti kemarin di Kemayoran. Danau Kemayoran terhadap underpass Kemayoran. Kami melakukan pengerukan di Danau kemayoran dengan dua eskavator. Kan kemarin hujan ekstrem. Jadi saat ekstrem kan tidak tenggelam lagi, turun 2,4 meter (air yang surut) karena pengerukan," tandas Bambang.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT