24 February 2020, 18:09 WIB

Plan Internasional Kampanyekan Cegah Perkawinan Anak


Adiyanto | Weekend

DAMPAK buruk perkawinan usia anak tidak hanya memengaruhi individu dan keluarga dari korban perkawinan usia anak, seperti putus sekolah, komplikasi kehamilan dan persalinan, stunting, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, eksploitasi, hingga kematian. Akan tetapi, turut memengaruhi lingkungannya dari skala terkecil hingga nasional. Penelitian oleh World Bank dan International Center for Research on Women (ICRW) pada 2017 menunjukkan bahwa perkawinan usia anak turut memengaruhi indeks pembangunan manusia, angka kelahiran prematur, angka kematian ibu dan anak, angka stunting, angka fertilitas total, hingga pendapatan daerah dan negara.

Melihat dari buruknya dampak perkawinan usia anak dan dukungan yang ditunjukkan oleh pemerintah serta organisasi masyarakat di daerah Rembang, maka pada 2016 Project Yes I Do dipersiapkan oleh aliansi Yes I Do untuk diimplementasikan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.. Aliansi yang terdiri dari Rutgers WPF Indonesia, Plan International Indonesia dan Aliansi Remaja Independen ini, berkomitmen untuk mencegah perkawinan anak, kehamilan remaja dan praktik berbahaya bagi organ reproduksi perempuan

Sejak 2016 hingga tahun lalu, Plan International Indonesia, yang tergabung dalam aliansi ini, ikut terlibat dalam kegiatan ini guna melindungi remaja di Rembang dari dampak buruk perkawinan anak. Kegiatan mereka antara lain memfasilitasi mereka untuk berdaya dan mencegah praktik perkawinan usia anak di wilayah tersebut, terutama difokuskan di Desa Menoro dan Desa Mojosari di Kecamatan Sedan dan Desa Woro dan Desa Ngasinan di Kecamatan Kragan.

Di situ lembaga ini antara lain memobilisasi masyarakat untuk mengubah sikap dan mengambil tindakan, termasuk kebijakan pada tingkat desa, untuk mencegah praktik perkawinan usia anak dan kehamilan remaja. Selain itu, memfasilitasi masyarakat di desa dampingan untuk membentuk Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD). Mereka juga memfasilitasi KPAD untuk berkoordinasi dengan Forum Anak Desa dan elemen masyarakat lainnya.

"Anak-anak desa masih ada yang rentan menikah usia anak karena diam di rumah dan tidak sekolah, karena biaya dan lain sebagainya. Melalui kegiatan ini anak-anak di desa mendapatkan pelatihan-pelatihan berwirausaha atau bisnis. Kita disibukkan untuk belajar hal yang bermanfaat, seperti wirausaha dan lain-lain," ujar Salsalatul Khasanah, 17, anggota Forum Anak Desa yang ikut kegiatan ini, seperti tertera dalam rilis Plan Internasional, yang diterima,Senin (24/2). (M-4)
 

BERITA TERKAIT