24 February 2020, 14:19 WIB

Kebijakan Merdeka Belajar Harus Digalakkan Lewat Akar Rumput


Irvan Sihombing | Humaniora

SUDAH lebih dari sebulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memublikasikan kebijakan Merdeka Belajar. Namun, praktiknya masih belum terasa di lapangan karena begitu banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi.

Muhammad Nur Rizal, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), mengatakan, mengubah kebijakan memang tidak mudah dengan adanya birokrasi yang berlapis-lapis. Apalagi, kebijakan Merdeka Belajar mengharuskan eselon pemerintah untuk menggeser kultur standardisasi.

"Indonesia butuh perubahan paradigma pendidikan. Hal itu mengarah pada perubahan mindset guru, kultur sekolah yang merdeka untuk bereksperimen baik dalam pembelajaran maupun pengelolaan perubahan sekolah," ujar Nur dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (24/2).

Baca juga: Merdeka Belajar Menuju Pendidikan Ideal

Kebijakan Merdeka Belajar secara konsep sebenarnya sangat cocok untuk menyelesaikan masalah pendidikan Indonesia. Menerapkan asesmen sebagai pengganti USBN, meniadakan ujian nasional, menyederhanakan RPP, dan merevisi kebijakan zonasi tampak sebagai strategi yang kontekstual.

Namun, konsep yang matang tersebut masih belum terlihat wujudnya dalam penerapan di level praktis. Nur Rizal menyebut, perubahan paradigma lewat gerakan akar rumput mampu menjadi jalan tengah untuk menyukseskan kebijakan Merdeka Belajar.

“Perubahan semacam ini hanya akan terjadi jika dilakukan lewat gerakan akar rumput bersama guru-guru, sebab stakeholder di lapanganlah yang paling memahami dan menguasai kondisi di ujung pendidikan kita, sekolah,” tegas pria yang juga dosen Universitas Gadjah Mada itu.

Lebih lanjut, sambung dia, GSM mengakomodasi semangat pergerakan guru-guru dengan framework yang mudah diterapkan dan mampu menciptakan perubahan nyata GSM sebagai platform gerakan akar rumput di bidang pendidikan telah dan akan terus mengubah paradigma para stakeholder pendidikan yang merupakan peran strategis.

Selama ini, ekosistem sekolah menyenangkan hanya didapatkan oleh segelintir orang yang memiliki privilese. GSM mengusahakan kualitas pendidikan yang merata dan berjuang untuk memangkas tajamnya ketimpangan antara sekolah favorit dan pinggiran. (RO/A-3)

BERITA TERKAIT