24 February 2020, 10:30 WIB

Membuka Netra Dunia dengan Membaca


*/H-3 | Humaniora

RAK-RAK buku berjajar rapi di perpustakaan yang sunyi. Seorang pengunjung menelusuri jajaran rak sambil meraba barisan buku-buku dengan judul yang dibuat timbul. Tangannya berhenti pada satu buku.

“Ini adalah buku Dilan. Saya suka ceritanya, romantis,” tutur pengunjung tunanetra yang enggan disebut namanya. Ia mengeluarkan buku dari barisan buku di rak.

“Buku satu-satunya cara saya belajar dan mengetahui banyak hal,” ujarnya. “Di sini saya bisa belajar banyak. Ada banyak buku yang bisa saya baca, bukan hanya buku pelajaran, melainkan juga novel,” lanjutnya. Ia tidak dapat melihat sejak kecil dan  menjadi salah satu tunanetra dampingan Yayasan Mitra Netra.

Yayasan Mitra Netra yang beranggotakan 800 orang didirikan pada 1991 untuk mendampingi para tunanetra agar terus belajar dan mandiri. “Kita dampingi mereka sehingga para tunanetra bisa mandiri, cerdas, dan bermanfaat di masyarakat inklusif. Di perpustakaan ini, mereka bebas mengakses buku-buku,” jelas Ketua Yayasan Mitra Netra, Bambang Basuki.

Perpustakaan di Yayasan Tuna Netra mempunyai koleksi buku berjumlah lebih dari 3.100 judul. Buku-buku itu didesain khusus untuk tunanetra karena tulisan yang timbul (Braille). “Jadi, buku-buku yang ada sesuai ­dengan permintaan rekan yang tunanetra. Setiap ada permintaan, kita buatkan bukunya. Proses pembuatan kurang lebih satu bulan,” imbuh Bambang.

“Kita juga punya audio book, kita desain sedemikian rupa supaya teman-teman kita yang tunanetra bisa belajar seperti teman-teman yang lain,” tambah koordinator produksi, Indah Lutfia.

Buku yang didesain Yayasan Mitra Netra terdiri atas buku-buku pelajaran SD, SMP, SMA, pengetahuan umum, dan buku fiksi seperti novel. Buku pelajaran atau referensi kuliah dapat dipinjam selama satu semester, sementara buku pengetahuan umum bisa dipinjam selama satu bulan. Jika diperlukan, peminjam dapat mengajukan perpanjangan.

Yayasan Mitra Netra juga menyumbangkan buku-buku Braille ke Perpustakaan Nasional dan perpustakaan lain di seluruh Indonesia.

Kendati demikian, Indah menuturkan, ­ketersediaan buku-buku seri Braille masih sangat terbatas, tidak seperti buku biasa yang mudah dijumpai di perpustakaan atau di toko buku. “Koleksi kita cukup banyak, tapi buku kita tidak sebanyak buku biasanya,” ujarnya.

Ke depan, Yayasan Mintra Netra akan terus memproduksi buku-buku yang memenuhi ­keperluan para tunanetra yang ada di Indonesia, khususnya di Yayasan Mitra Netra. (*/H-3)

BERITA TERKAIT