24 February 2020, 10:20 WIB

Perlu Kolaborasi untuk Atasi Ancaman Kanker


Atalya Puspa | Humaniora

PERINGATAN Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) bahwa dunia dihadapkan pada ancaman kenaikan kasus kanker yang diprediksikan tujuh kali lipat pada 2030 patut mendapat perhatian serius. Selain masyarakat perlu meningkatkan kesadaran hidup sehat, pemerintah dan industri perlu melakukan kerja sama yang kuat dalam hal penyediaan oba­t-obatan dan alat medis terkait onkologi.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat prevalensi kanker di Indonesia meningkat dari 1.4 per 1.000 penduduk di 2013 menjadi 1,79 per 1.000 penduduk pada 2018. Global Cancer Observatory (Globocan) menyebut­kan pada 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru kanker dengan angka kematian sebesar 9,6 juta jiwa di dunia. Di Indonesia, angka kejadian penyakit kanker menempati urutan kedelapan di Asia Tenggara dan urutan ke-23 di Asia. Prevalensi kanker tertinggi di Yogyakarta, yaitu 4,86 kasus per 1.000 penduduk, disusul Sumatra Barat 2,47 kasus dan Gorontalo 2,44 kasus per mil.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk menekan kasus kanker, menurut Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, ialah menjaga pola hidup sehat. Beberapa yang bisa dilakukan masyarakat ialah olahraga teratur, banyak minum air putih, tidak merokok, dan mengurangi konsumsi makanan berlemak.

“Hal terpenting lain yang bisa dilakukan adalah menjaga pikiran agar tidak stres dan terus berpikir positif.” Muha­djir juga mengajak masyarakat untuk berempati dengan memberikan dukungan kepada para pasien, keluarga pasien, dan penyintas kanke­r.

Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceuticals Krestijanto Pandji menambahkan perlunya kerja sama pemerintah dan dunia industri untuk menangani pasien kanker. “Perlu kesinambungan, kerja sama pemerintah dan industri. Selain itu, setiap ada pasien terpapar kanker, pihak industri dan pemerintah ada obatnya,” ujarnya di acara Jalan Sehat Karnaval Penyintas Kanker bersama Cancer Information and Support Center (CISC) di area car free day, Jl MH Thamrin, Jakarta, kemarin.

Menurut Krestijanto, obat kanker buatan dalam negeri sebetulnya sudah memenuhi 80% kebutuhan dalam negeri. Dia pun berharap obat buatan dalam negeri bisa menggantikan obat kanker impor karena kualitasnya sudah setara.

Deteksi dini

Sebagai antisipasi dan pe­ngendalian penyakit kan­ker, anggota Komisi IX Fraksi Partai Golkar Dewi Asmara menambahkan, kepedulian masyarakat untuk melakukan deteksi dini menjadi salah satu kuncinya. “Masih sedikit perempuan di Indonesia melakukan tes IVA karena mereka takut. Ini perlu edukasi,” katanya, kemarin.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyatakan akan meningkatkan partisipasi pemerintah daerah dalam melakukan deteksi dini pada penyakit kanker. “Dari sekian pende­rita kanker, belum semua­nya dapat akses pelayanan dan dapat kita kover. Makanya peran pemda dan masyarakat sangat utama untuk mengatasi kanker di Indonesia,” kata Staf Ahli Kemenkes Bidang Ekonomi Kesehatan M Subuh di Jakarta. (H-1)

BERITA TERKAIT