24 February 2020, 09:51 WIB

Gagal Paham


Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma Jakarta | Opini

KETIKA mengantar cucu ke TK, penulis ter­cenung menyaksikan seorang ibu se­derhana dengan menggendong bayi mengantar kakak si bayi masuk di sekolah yang sama. Dengan wajah ceria, sang ibu kemudian mengeluar­kan se­sua­tu dari tas kecil yang dibawa. Sebagai penjahit, bungkus­an yang dikeluarkan dari tas ke­cil itu ialah potongan baju pe­rempuan yang sedang akan dipasang kancingnya.

Sederhana memang peristi­wa itu, tetapi senyum tulus ibu muda yang ikhlas mengabdi, meski ‘sarat beban’ dan mungkin dengan penghasilan ala kadarnya, mampu menjalani kehidupan dengan tersenyum.

Berbeda dengan anak-anak mu­da yang gagal paham dengan perasaan diri dan orang lain. Dalam bahasa Aronson, Wil­son dan Akert (2010), ba­gai­mana individu berpikir ten­tang diri dan lingkungan sosialnya, bagaimana mereka menyeleksi, menginterpretasikan, mengingat, dan menggunakan informasi sosial untuk membuat judgment dan ke­pu­tusan disebut dengan istilah kognisi sosial. Video viral kekerasan tiga pelajar laki-laki terhadap teman putrinya di da­­lam kelas, hanya karena ma­­salah sepele, menunjukkan rendahnya kognisi sosial sis­wa. Padahal, kemampuan demikian merupakan fondasi penting bagi proses-proses sosial berikutnya.

Kognisi sosial    

Terdapat dua istilah yang sering digunakan secara bergantian dalam menjelaskan proses berpikir, yaitu thought dan cognition. Meskipun pikir­an dan kognisi sering dipertu­karkan dalam penggunaan sehari-hari, dalam kajian psi­ko­logi terdapat perbedaan pe­nekanan makna di antara ke­duanya.

Pikiran lebih meru­pakan bahasa dan simbol in­ternal yang kita gunakan, lebih sering disadari atau se­ti­­daknya dilakukan secara sa­­dar. Sementara itu, istilah kognisi artinya sedikit berbeda, merupakan proses mental yang sebagian besarnya tidak disadari.

Kognisi berfungsi seperti program komputer, beroperasi di belakang, tapi menjalankan semua fungsi komputer yang tampak di layar monitor. Kog­ni­si merupakan aktivitas mental yang terjadi dalam jiwa untuk memproses, memaknai, dan menyimpan aneka informasi persepsual, serta untuk merencanakan dan memprog­ram apa yang akan kita lakukan dan katakan. Kognisi tidak dapat diamati secara langsung, tapi kita dapat menyimpulkannya melalui ekspresi, tindak­an, tulisan, dan perkataan orang. Manakala kita dapat me­mahami kognisi, kita juga akan mengerti bagaimana dan mengapa orang berperilaku se­perti itu (Hogg dan Vaughan, 2010).

Dalam teori konsistensi kognitif, orang akan merasa tidak nyaman manakala memiliki pikiran yang kontradiktif. In­­­dividu cenderung akan berusaha dengan berbagai cara yang mungkin, baik berupa perilaku atau rasionalisasi, ter­masuk mengubah sikapnya yang telah mapan, untuk mengatasi inkonsistensi yang terjadi (Heider, 1958). Mi­­sal­­­­nya, guru yang memiliki penghasilan tidak seberapa iri dengan kekayaan sahabatnya yang menjadi pengusaha.

Di satu sisi, individu mencintai profesinya sebagai guru, tapi di sisi lain dia belum dapat menerima penghasilannya sebagai guru, yang tidak seban­ding dengan temannya yang menjadi pengusaha. Menurut teori konsistensi kognitif, guru ini hanya perlu belajar asertif, menentukan pilihan dengan lugas, tetap menjadi guru, dan ikhlas menerima seberapa pun pendapatannya, atau beralih menjadi pengusaha jika memang kekayaan yang menjadi prioritas.
    
Skema kognitif

Secara evolutif, manusia te­­lah diberi anugerah dengan po­tensi kognitif yang terus ber­­kembang sesuai dengan per­­kembangan zaman. Berbe­da dengan makhluk lainnya, ma­nusia memiliki otak dengan kemampuan luar biasa. Tidak hanya mampu berpikir abstrak dan hipotetis, tetapi juga elabotarif. Kemampuan demikian berfungsi sebagai sarana untuk mempertahankan diri dan membangun relasi dengan orang lain.

Karena semakin hari kehi­­dup­an ini semakin rumit dan kompleks, tidak semua infor­masi dapat diserap secara de­­tail dalam waktu singkat, orang memerlukan skema. De­ngan skema, orang memiliki semacam kerangka dalam mencoba memahami dan menginterpretasi berbagai pe­ristiwa yang terjadi dalam kehidupannya.

Benar bahwa kita dianuge­rahi kemampuan untuk dapat memahami dan menafsirkan perilaku orang lain. Namun, orang tentu tidak memiliki cu­kup waktu dan tenaga untuk secara terperinci mencermati setiap informasi yang menyangkut orang lain, yang baru saja kita temui. Kompleksitas realitas sosial yang ditemui mengharuskan kita selektif dalam memperhatikan, mencoba mengerti, dan mengingatnya. Skema di sini bermanfaat untuk menjelaskan bagaimana informasi sosial secara selektif dipahami dan diorganisasikan dalam ingatan.

Terdapat dua proses yang berbeda ketika kita mengeva­luasi orang lain; mengevalua­si atribut-atributnya sebagai individu dan melakukan kategorisasi sosial. Manusia memiliki kecenderungan untuk memahami orang lain ber­­dasarkan kategori-kategori tertentu daripada melihat atri­­but-atribut masing-masing secara terperin­ci. Kategorisasi ini umumnya berbasis ras, agama, gender, penampilan fisik, usia, keanggotaan kelompok, dan profesi.

Hal demikian sering terjadi karena dengan kategorisasi, un­­tuk beberapa kasus, lebih sederhana dan efektif. Memin­jam istilah Brigham (1991), kita semua ialah cognitive misers, pelit kognitif, dalam arti enggan bersusah payah mengerahkan pikiran mencoba memahami realitas sosial secara lebih detail dan komprehensif.

Skema ialah kerangka mental yang berpusat pada tema-te­ma spesifik yang dapat membantu kita mengorganisasikan informasi sosial. Dengan ske­ma, kita menjadi cepat dapat memahami dan menyimpulkan berbagai peristiwa yang terjadi. Dalam dunia yang se­­makin rumit dan kompleks, skema membantu mengurangi beban mental manusia ketika berinteraksi dengan realitas ke­­hi­­dupannya. Skema dibentuk dunia yang kita tinggali. Pengalaman hidup dengan ber­­bagai peristiwa yang menyer­­tainya membentuk kerangka mental, yang kemudian disebut skema, menjadi semacam kacamata dalam melihat dunia sekitar.

Begitu terbentuk, skema memengaruhi perilaku sosial kita, misalnya, pada kasus trauma street violence, tawuran, dan se­­macamnya. Pengalaman ti­­dak menyenangkan anak atas perlakuan kasar teman dari sekolah lain dapat menja­­di ske­­ma, yang kemudian dia pergunakan untuk melihat realitas ke depan. Ketika tumbuh, anak ini cenderung melihat setiap laki-laki dari sekolah lain akan dipahami sebagai ancaman. Bagi individu, pernah mengalami situasi yang mirip di masa lalu merupakan kerangka men­tal untuk memahami informasi sosial yang baru.

Memperbaiki skema

Skema menimbulkan efek yang kuat terhadap tiga proses dasar; (1) perhatian atau atensi (attention), proses pertama kali terjadi yang mana individu memperhatikan gejala-gejala sosial yang ada di sekelilingnya. (2) Pengodean (encoding), memasukkan apa yang di­­per­­hatikan ke memorinya dan menyimpannya. Peristiwa yang mengesankan biasanya memiliki retensi yang lebih la­­ma di dalam memori. (3) Mengingat kembali (retrieval). Apabila kita menemukan geja­­la yang mirip, kita cenderung mengeluarkan ingatan kita dan membandingkannya dengan yang sedang dilihat (Baron, Branscombe, dan Byrne, 2012).

Hal ini berarti skema-skema yang kita miliki akan sangat memengaruhi kognisi sosial kita, respons-respons kita ter­ha­­dap berbagai persoalan ke­­hidupan. Apabila skemanya positif, kita cenderung meres­­pons dunia baru dengan positif juga. Sebaliknya, jika skema­nya negatif, bukan saja kita akan melihat dunia sekitar de­­­­ngan ‘kacamata hitam’, melainkan juga pilihan-pilihan perilaku dan keputusan yang di­ambil sebagai respons terha­dap rangsang yang masuk akan cenderung negatif.

Semakin kuat dan mapan suatu skema, semakin dominan pula kognisi sosial kita dibentuk oleh skema dimaksud. Ada pengalaman menarik yang ti­­­dak lucu dari seorang maha­siswa dengan kemampuan ba­­hasa Inggris yang sangat buruk. Ternyata ada skema yang telah mapan, yang terbangun sejak kecil berkat ajaran gu­ru­­­nya di kampung. Bahasa Inggris ialah bahasanya orang munafik karena tulisan dan ca­ra membacanya tidak sama. Dalam konteks ini, Pancasila dapat dijadikan acuan dalam memperbaiki skema yang ti­­­dak sesuai dengan tata kehidup­an yang bermartabat.

BERITA TERKAIT