23 February 2020, 19:57 WIB

Mustahil Berenang Bersama Picu Kehamilan


Atalya Puspa | Humaniora

PERNYATAAN Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty terkait kehamilan yang dapat terjadi akibat laki-laki dan perempuan berenang di kolam yang sama menuai berbagai tanggapan dari masyarakat luas.

Dari sisi medis, dokter spesialis kandungan dari Rumah Sakit Siloam Christofani Ekapatria mengatakan hal tersebut mustahil terjadi.

"Tidak mungkin terjadi. Karena sperma akan mati begitu terkena air," kata Christofani kepada Media Indonesia, Minggu (23/2).

Christo menjelaskan, proses untuk seorang perempuan bisa hamil sangat kompleks. Pasalnya, Fekunditas atau laju reproduksi manusia paling rendah dibanding spesies mamalia lain, hanya sekitar 25% setiap siklusnya.

 

Baca juga: Perempuan Hamil Hati-Hati Gunakan Toilet

 

Adapun, perempuan dan laki-laki perlu memiliki organ reproduksi yang sehat untuk terjadi pembuahan. Diawali dari haid yang mengawali siklus pertumbuhan sel telur. Proses pematangannya membutuhkan waktu sekitar 14 hari. Setelah sel telurnya matang baru akan terjadi Ovulasi (pelepasan sel telur ke dalam saluran telur).

"Pascaovulasi seorang wanita hanya punya waktu sekitr 24 jam untuk bisa dibuahi. Apabila saat masa subur terjadi koitus (hubungan seksual) maka puluhan hingga ratusan juta sperma akan dilepaskan ke dalam vagina. Di sini proses seleksi sudah terjadi," bebernya.

Adapun, dari jutaan sperma yang dilepaskan hanya sekitar ribuan sperma yang bisa mencapai saluran telur. Seleksi terus berjalan hingga akhirnya 1 sperma saja yang bisa bersatu dengan sel telur

"Selanjutnya, embrio yang terbentuk harus bisa menempel di endometrium (dinding dalam rahim) untuk bisa berkembang menjadi bayi. Sperma yg sehat bisa bertahan hingga 72 jam di dalam tubih seorang wanita," ungkapnya.

"Akan tetapi di dunia luar sperma akan cepat mati dan tidak akan bisa membuahi," tandasnya.

Berkaitan dengan banyaknya informasi simpang siur mengenai reproduksi, Deputi Kesehatan Kemenko PMK Agus Suprapto menekankan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dalam sertifikasi pranikah.

"Ya betul dalam sertifikasi pranikah ada materi kesehatan reproduksinya," kata Agus.

Adapun, calon pengantin akan diberikan materi terkait kesehatan reproduksi mulai dari informasi organ reproduksi laki-laki dan perempuan, kehamilan, perencanaan kehamilan, hingga potensi penyakit menular yang timbul.

Terpisah, Deputi Bidang Keluarga Berencana BKKBN Dwi Listyawardani mengungkapkan, materi kesehatan reproduksi yang dimasukkan dalam sertifikasi pranikah dapat membatu untuk menciptakan keluarga berkualitas.

"Dengan adanya edukasi dan cek kesehatan pranikah, diharapkan akan menciptakan generasi berkualitas, dan untuk mengoptimalkan bonus demografi sampai 2045. Ini untuk menyelamatkan generasi ke depan. Kita sudah bisa edukasi dari awal reproduksi sebelum keluarga terbentuk," pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT