23 February 2020, 14:57 WIB

Bupati Ngada Sebut Ada 20 Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak


Alexander P Taum | Nusantara

Bupati Ngada, Paulus Soliwoa menyayangkan maraknya Kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terus meningkat dari tahun ke tahun dan 
melibatkan orang-orang dekat dengan anak.

Tahun 2019, Kata Bupati Soliwoa, tercatat 20 kasus kekerasan terhadap 
anak. Dari 15 tersebut di antaranya kasus kekerasan seksual, empat kasus penelantaran anak, dan satu kasus bully.

Disayangkan, kekerasan terhadap anak banyak dilakukan oleh orang-orang 
dekat korban, seperti orang tua sendiri, maupun kakak adik, om, tante 
dan orang dekat lainnya. Ada juga pelaku kekerasan terhadap anak 
dilakukan oleh anak dengan korban anak.

Hal tersebut disampaikan Bupati Ngada, Paulus Soliwoa ketika membuka 
Konferensi Anak Daerah (Konferda) tingkat Kabupaten Ngada yang 
berlangsung 20-23 Februari di Rumah Khalwat Bintang Bethlehem, Bejo, 
Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.

Menurut Bupati Paulus Soliwoa, merebaknya kasus kekerasan terhadap anak sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan generasi di wilayah itu dan 
bangsa Indonesia pada umumnya.

Bupatipun minta berbagai pihak turun tangan ikut ambil bagian dalam 
mengatasi kasus kekerasan terhadap anak yang terus meningkat dari tahun 
ke tahun.

Bupati berbicara di hadapan 70 siswa utusan dari berbagai SMP dan SMA/SMK 
se-Kabupaten Ngada yang juga dihadiri 35 guru pendamping serta undangan 
lainnya, Minggu (23/2).

Paulus Soliwoa tercengang karena pada bulan kedua tahun 2020, ada dua 
anak sebagai pelaku tindak kekerasan. Terjadi tiga kasus kekerasan 
terhadap anak di bawah umur dengan dua anak sebagai pelaku kekerasan.

Pemda Ngada sendiri, berjanji melakukan interfensi melalui kebijakan 
anggaran, guna melakukan berbagai kegiatan dan upaya advokasi anak.

Menurut sumber di Dinas PMDP3A Kabupaten Ngada yang membidangi urusan desa, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, tahun lalu untuk 
bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) mendapat jatah anggaran sekitar Rp60 juta, dan tahun ini ada tambahan anggaran menjadi Rp89 juta lebih.

"Kita akan terus beri perhatian pada masalah ini. Karena ini demi masa 
depan Ngada dan masa depan Bangsa. Intervensi anggaran untuk bidang ini 
menjadi perhatian supaya bisa lakukan diversifikasi kegiatan anak, 
sebagai langkah kampanye menolak kekerasan terhadap anak," kata Soliwoa. (PT/OL-10)

BERITA TERKAIT