23 February 2020, 08:45 WIB

Pola Pikir Baru Majukan Aceh


Ferdian Ananda Majni | Weekend

GEMA zikir ratusan santri mengawali Kenduri Kebangsaan di Kompleks Sekolah Sukma Bangsa di Desa Cot Keutapang, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, Aceh, kemarin.

Sejak pukul 06.30 WIB, warga berdatangan dengan antusias mengikuti acara yang dihadiri Presiden Joko Widodo, para menteri, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar, Pembina Yayasan Sukma Surya Paloh, Ketua Yayasan Sukma Lestari Moerdijat, ulama, serta anggota MPR, DPR, dan DPD RI asal Aceh.

Ketika Presiden Jokowi tiba, giliran siswa-siswi Sekolah Sukma Bangsa menyambut dengan lantunan Salawat Badar. Sambil berjalan beriringan dengan Surya Paloh, Jokowi menuju ke panggung utama.

"Selamat datang Bapak Presiden. Kami bangga Bapak berkali-kali ke Aceh. Semoga dukungan pemerintah pusat berlanjut. Kami mohonBapak Presiden tetap memberikan dana otsus, tidak berhenti di 2027 karena terbukti mengurangi kemiskinan," ungkap Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam sambutannya.

Kenduri Kebangsaan digagas Yayasan Sukma dan Forum Bersama Anggota DPR dan DPD RI asal Aceh untuk membangun kembali semangat keacehan, keislaman, dan keindonesiaan.

Surya Paloh yang menyampaikan sambutan berikutnya menyinggung perlunya Aceh mendapat asistensi khusus untuk meminimalisasi ketergantungan pada dana otsus.

"Daerah ini memerlukan asistensi khusus dari pusat walaupun telah mendapatkan kekhususan sebagai daerah otsus," kata Surya.

Aceh berhak atas dana otsus selama 20 tahun sejak 2008 dan berakhir pada 2027. Pada 15 tahun pertama besaran dana otsus setara 2% dari DAU, sedangkan 5 tahun sesudahnya tinggal 1%. Selama 2008-2019, pemerintah pusat mengucurkan anggaran dana otsus untuk Aceh sebesar Rp73,83 triliun.

Berdasarkan data BPS, Aceh merupakan provinsi termiskin di Sumatra dan nomor enam di Indonesia. Per September 2019, jumlah penduduk miskin di Aceh sekitar 800 ribu atau 15,01% dari populasi.

"Yang penting perubahan cara berpikir. Kita jangan bertikai untuk kepentingan sesaat suatu kelompok. Dana otsus tidak bagus karena menciptakan ketergantungan. Kita harus bekerja bersama untuk kemajuan Aceh," lanjut Surya.

Di sisi lain, Surya Paloh tidak memungkiri jasa masyarakat Aceh terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia. "Kita semua memahami catatan sejarah rakyat Aceh terhadap Indonesia."

Investasi

Dalam pidatonya, Jokowi menegaskan Aceh sebagai provinsi pemegang anggaran terbesar di Indonesia. Tahun ini, Aceh juga memperoleh dana otsus Rp8,3 triliun.

"Saya titip kepada bupati, wali kota, dan gubernur salurkan anggaran untuk hal-hal penting. Beri perhatian pada kemiskinan. Kita konsentrasi ke pembangunan. Saya mempertimbangkan apakah perlu asistensi terkait dana otsus. Kalau perlu, besok saya langsung dampingi. Jangan ngomong iya, nanti di birokrasinya tidak mau. Saya ngomong apa adanya," kata Jokowi.

Jokowi tidak lupa meminta pemda berbenah untuk menarik banyak investor. Semakin banyak arus modal masuk dipastikan baik pula pertumbuhan ekonomi di daerah.

Presiden mengaku telah merayu investor dari luar negeri untuk menanamkan modal di Aceh. Salah seorang di antaranya Mohammed bin Zayed dari Uni Emirat Arab.

"Beliau mau membangun properti dan pariwisata di Aceh. Ada beberapa pertanyaan yang sudah saya sampaikan ke Gubernur. Jadi, tolong nanti beri back-up data dan beri penyampaian yang baik. Kekayaan beliau ini tidak bisa dihitung, US$1,4 triliun," tandas Presiden. (Pra/Fah/HP/MR/X-3)

BERITA TERKAIT