23 February 2020, 08:30 WIB

Christine Hakim Air Mata untuk Aceh


Ferdian Ananda Majni | Weekend

Ada hajat khusus Christine Hakim di Aceh yang didapat dari mimpinya. Ia akan mengambil tanah di sana untuk ditaburkan ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jawa barat.

DALAM balutan pakaian Kerawang Gayo Lues, produser dan aktris legendaris Christine Hakim tampil memesona saat menghadiri acara Kenduri Kebangsaan di Sekolah Sukma Bangsa Bireuen, Aceh, kemarin. Ia datang untuk menikmati santapan dalam hajatan besar yang digelar guna mempertemukan segenap lapisan masyarakat Aceh dengan Presiden Jokowi.

Di antara ribuan tamu yang datang dari berbagai lapisan profesi, kehadirannya sungguh menarik perhatian. Itu tak lepas dari masih kuatnya sosok pejuang perempuan asal Aceh, Cut Nyak Dhien pada Christine Hakim, yang pernah diperankannya dalam film berjudul Tjoet Nja' Dhien (1988). Padahal, film itu sudah 32 tahun berlalu dan Christine kini sudah berusia 63 tahun.

Begitu pula dengan Christine yang memiliki ikatan khusus dengan Aceh. Meski lahir di Kuala Tungkal, Jambi, orangtuanya merupakan campuran darah Minangkabau dan Aceh. Christine memiliki darah keturunan Aceh dari sang kakek yang lahir di Meulaboh, Aceh Barat.

Bahkan, ayahnya pernah mengenyam pendidikan di Bireuen. "Untuk urusan Aceh itu rasanya saya merasa kalau memang dengan izin Tuhan merasa kedekatan yang amat dekat," tuturnya kepada Media Indonesia.

Tak mengherankan, Cristine merasakan perasaan yang berbeda ketika berbicara tentang Aceh. Ia bahkan tak kuasa membendung air matanya, ketika menceritakan bagaimana kondisi Aceh yang saat ini berada di garis kemiskinan, pembangunan infrastruktur tertinggal, bahkan sejumlah sektor lainnya juga tak kunjung menggairahkan. "Tiga tahun saya harus merasakan sakitnya perjuangan rakyat Aceh pada saat saya memerankan Cut Nyak Dhien. Tiga tahun. Setelah film itu selesai, saya baru berhenti menangis," ungkapnya.

Untuk menenteramkan hatinya, ia pun menyempatkan salat di Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, yang menjadi saksi bisu saat gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh pada 2004.

"Saya menangis, hanya dengan kehendak Tuhan dan izin Tuhan, masjid itu tetap berdiri dengan anggun dan kukuh, luar biasa saksi sejarah. Zaman kolonial, dibakar tetap berdiri, diempas tsunami tetap kukuh berdiri dan orang-orang di dalamnya selamat, masya Allah," cerita dia.

Christine bersyukur masih ada tokoh Aceh seperti Surya Paloh yang kini memimpin Partai NasDem yang sangat peduli dengan Aceh. Di matanya, Surya Paloh memiliki dedikasi tinggi pada tanah kelahiran orangtuanya itu. "Ini bukan saya kenal baik dengan beliau ya, tidak. Saya tahu banyak juga masyarakat Aceh yang peduli dengan kondisi Aceh, pasti. Bagaimana kondisi Aceh seperti ini pasti butuh kepedulian orang-orang hebat Aceh," terangnya.

Syariat Islam

Di masa lalu, Aceh bertahun-tahun pernah menyandang status daerah operasi militer (DOM), mengalami perang saudara, hingga akhirnya datanglah perjanjian Mou Helsinki yang memberikan harapan baru bagi masyarakatnya. Sebagai daerah istimewa, Aceh juga memiliki kewenangan otonomi khusus dan menjalankan hukum berdasarkan syariat Islam.

Christine mendukung apa pun yang dilakukan untuk memajukan Aceh, termasuk syariat Islam di sana. Ia berharap dengan penerapan syariat Islam, masyararakat Aceh bisa hidup aman, damai, dan tenteram. "Tetapi ini sekaligus menjadi tantangan yang harus disikapi dengan bijak," kata Christine.

Dia menegaskan, persoalan syariat itu bukan tentang jubah hitam atau jenggot, ia bahkan tak mempersoalkan keinginan pribadi tersebut. Namun, yang jauh lebih penting ialah budi pekerti. "Islam bukan untuk mempersulit, justru Islam mempermudah hidup manusia. Kenapa? Kita dituntut, jadi jangan mau-maunya sendiri bikin hukum sendiri. Kita pikir masih berpedoman pada Alquran dan hadis padahal sudah melenceng," lanjutnya. (H-2)

BERITA TERKAIT