22 February 2020, 20:31 WIB

Bangkai Kapal Tol Laut di Lembata yang Bikin Susah


Alexander P Taum | Nusantara

PROSES embarkasi maupun debarkasi penumpang dan barang harus dilakukan di tengah laut di Teluk Lewoleba.

Termasuk, KM Bukit Siguntang milik PT Pelni yang harus buang jangkar di tengah lautan pada Sabtu (22/2) untuk menurunkan ataupun menaikkan penumpang dan barang.

Baca juga: Kapal Tol Laut Bermuatan Semen Tenggelam di Lembata

Mereka juga harus mengerahkan tiga kapal berukuran kecil untuk mengantar atau menurunkan penumpang. Tiga kapal itu ialah KM Gandha Nusantara 03, KM Gandha Nusantara 04, dan Mini Tanker 9 pilar.

Tiga kapal berbadan kecil itu dikerahkan untuk mengantar dan menjemput penumpang dari KM Bukit Siguntang menuju Pelabuhan Lewoleba.

Bahkan, seorang pasien asal Baluring, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata yang harus dirujuk ke Kota Kupang terpaksa digotong menuju Gandha Nusantara 04. Dan setelah tiba di KM Bukit Siguntang, penumpang itu harus kembali ditandu untuk berpindah kapal.

Baca juga: Bangkai Kapal Shinpo 16 Ganggu Aktivitas Bongkar Muat di Lembata

Rumitnya kondisi pelabuhan itu lantaran bangkai KM Shinpo 16 yang masih menutupi perairan di kawasan pelabuhan. Kondisi itu berlangsung sejak KM Shinpo 16 tabrakan dengan KM Maju 8 pada 10 Desember 2019.

Otoritas pelabuhan juga menggandeng PT Ussindo guna mengapungkan bangkai kapal tersebut.

Project managing PT United Sub Sea Services Indonesia (PT Usssindo) Iwan Farid Sirajudin menjelaskan, upaya pengapungan (refloating) bangkai KM Shinpo 16 sudah dilakukan melalui dua tahap.

Namun, pekerjaan terberat adalah mengeluarkan 1.500 ton semen atau 37 ribu sak semen yang masih tersimpan di palka Kapal. Dia menjelaskan, upaya mengeluarkan semen dari palka KM Shinpo 16 telah mengerahkan 16 penyelam. (X-15)

BERITA TERKAIT