23 February 2020, 04:00 WIB

Jejak Marco Polo dalam Aneka Kuliner


Fetry wuryasti | Weekend

MEMBACA sejarah tentu akan lebih menarik bila divisualisasikan menjadi sebuah cerita yang sederhana dan mudah dicerna, apalagi bila dalam pertualangan sejarahnya Anda dapat sekaligus mencicipi kuliner setempat.

Nah, lewat si koki kecil Le Petit Chef, Anda akan diajak mengarungi jejak perjalanan jalur sutra Marco Polo, seorang penjelajah asal Italia, melalui makanan di negara-negara yang dia lewati.

Le Petit Chef sendiri pertama kali dihadirkan di Belgia pada 2015 oleh studio Skullmapping. Idenya ialah mengawinkan sesi makan fine dining dengan teknologi video mapping yang menampilkan video berkarakter koki mini.

Di Jakarta, Le Petit Chef hadir ekslusif di private dining rooms C’s Steak & Seafood Restaurant Hotel Grand Hyatt Jakarta, berwujud augmented reality berupa koki kecil berukuran 58 mm yang akan bercerita perjalanan kuliner selama 1 jam 40 menit melalui teater visual 3D yang ditembakkan melalui proyektor ke buku di hadapan tiap-tiap tamu.

Penjelajahan pun akan dilengkapi dengan musik-musik bertema beserta staf hotel yang berinteraksi dengan para tamu sehingga pada setiap makanan mereka akan menikmati suasana yang berbeda dari tiap negara. Untuk menu premium bernama marco polo expedition, mereka membanderol seharga Rp2,4 juta per orang.

Program ini lebih mengarah kepada suasana fun dining, baik untuk lunch maupun dinner. Anda akan duduk berdampingan bersama 11 tamu lainnya mengelilingi satu meja panjang.

Begitu tiba di meja, tiap tamu akan dihadapkan satu buku. Bukan tanpa tujuan, buku itu menjadi media untuk latar teater 3D bagi augmented reality dari Le Petit Chef sehingga mereka seolah dilayani secara pribadi.

Cerita dimulai dengan Le Petit Chef memperkenalkan dirinya dan mengajak tamu berinteraksi. Dia merupakan seorang koki asal Prancis dan menceritakan perjalanannya yang cukup panjang hingga menjadi koki di Kota Marseille, Prancis. Cara penyampaiannya terlihat nyata seperti dia benar-benar sedang membalikkan lembar demi lembar halaman buku di hadapan kita.

Lantaran memiliki minat dan hobi yang tinggi pada makanan, dia memutuskan membuka stall restoran sendiri, tapi tak kunjung laku. Nyaris menyerah pada cita-cita menjadi chef, kemudian dia menemukan buku penjelajahan Marco Polo.

Perjalanan jalur sutra Marco Polo, kata dia, banyak memberinya pencerahan. Itu karena jalur tersebut memberikannya pengalaman sebagai juru masak akan bumbu-bumbu yang berbeda pada tiap titik destinasi. Selain itu, jejak Marco Polo, baginya, juga menguak berbagai rahasia masakan yang eksotis.

Pelayan akan menghidangkan menu pertama, yaitu bouillabaisse parfait, black oscietra caviar, brioche, dan saffron rouille di atas dua cangkang kerang dalam sebuah baki persegi yang dihias layaknya seperti alam bawah laut.

Bouillabaisse (dibaca buyabes) merupakan sup seafood tradisional Prancis yang dimasak dengan kuah minim. Namun, kali ini disajikan dalam bentuk parfait, dingin. Sup bertemu makanan penutup menjadikan makanan ini sebagai pembuka.

Setelah berucap bon appetit (selamat menikmati), semua tamu dipersilakan memakan krim dingin sup ikan yang berwana seperti saus thousand island. Rasa amis asin segar ala makanan laut terbangun dalam sup kental tersebut bersama potongan kepiting beralaskan cangkang kerang. Makanan ini didampingi brioche, yaitu roti klasik Prancis.

Pada cangkang kerang lainnya berisi kepiting di dalam saffron rouille, krim dengan rasa mayones dan bawang putih yang dominan. Pada atas kepi­ting ditaburkan black oscietra caviar, telur ikan berwarna hitam yang merupakan salah satu jenis telur ikan yang paling mahal.

Memang diakui porsi menu untuk pembuka ini bisa Anda habiskan dalam empat sendok. Namun, rasanya cukup memuaskan lidah Anda.

Ombak lautan menyeret Le Petit Chef sampai pada tepi pantai di negara Arab. Di sana dia mencicipi berbagai bumbu dan makanan, seperti buah kurma, kacang arab, dan pistacio. Dia juga mencicipi pedasnya cabai, empuknya buah tin, hingga terdampar di padang pasir.

Selama perjuangan dia berjalan di badai padang pasir, tamu akan disuguhkan dengan makanan semiutama. Makanan khas Arab yang disajikan, antara lain barley tabbouleh, lamb pastilla, potato harra, baharat tuna, serta kurma. Semuanya disajikan dalam besi rantang yang dibentuk seperti kubah masjid.

Barley tabbouleh merupakan salad arab yang mirip seperti acar. Makanan ini menggunakan gandum bubur yang berbentuk seperti kepala tauge dengan cacahan tomat, potongan peterseli, daun min, dan daun bawang, kemudian dibumbui dengan minyak zaitun, perasan lemon, dan garam. Di atas tabbouleh diletakkan baharat tuna beserta telur ikan berwarna oranye.

Sajian berikutnya ala India berupa butter chicken, jeera rice, dan paratha. Butter chicken terasa sangat lembut dan gurih lengkap dengan saus kari, yang untungnya tidak terlalu kuat seperti kari asli India.
Makanan beratnya ada pada jeera rice, berupa hidangan India yang terdiri atas beras dan biji jintan. Itu ialah hidangan populer di India Utara sebagai hidangan nasi sehari-hari.

Yang menjadi hal istimewanya bukan berisi biji jintan, jeera rice diberi isi taburan kacang almon dan buah kismis. Pada dasar nasi rupanya juga terdapat tiga lembar paratha. Roti goreng tipis ini bisa kita oleskan dengan bumbu kari dari butter chicken.

Negara ketiga yang menjadi tujuan Le Petit Chef, yaitu Nepal, Himalaya. Tidak jauh berbeda demografi dan budayanya karena Nepal berada di utara India. Untuk penerbangan dia menggunakan sang burung, mendarat di atas puncak Everest.

Dingin dan kabut salju tebal pegunungan Himalaya juga divisualisasikan dalam bentuk kuliner. Le Petit Chef menghadirkan lemon sorbet dan masala chai. Namun, disayangkan, lemon sorbet sebenarnya bukan kuliner khas Nepal. Negara ini memiliki lassi, minuman berbasis yoghurt.

Selain itu juga, rasanya mubazir ketika masala chair, yaitu teh susu rempah-rempah panas khas Nepal hanya menjadi properti untuk menghasilkan asap dari mangkuk yang menaungi lemon sorbet.

Dari Himalaya, Le Petit Chef melanjutkan perjalanan ke ‘Negeri Tirai Bambu’, yaitu Tiongkok. Diplomasi Marco Polo ketika di Tiongkok bahkan membuat Kubilai Khan terkesan. Perjalanan jalur sutra ini membuka interaksi antarbangsa.

Di sana, kita disuguhi dengan steamed gindara, lobster medallion, chicken siu mai, rice ball, dan hong kong sauce.

Setelah bertualang dan kembali ke Marseille, kini giliran Le Petit Chef memasakkan hidangan spesial ke para tamu. Sebagai hidangan penutup kali ini, dia menyajikan saffron spiced rice pudding, creme brulee, dan apricot compote.

Ada sedikit kiat, bagi Anda yang terbiasa sangat menikmati waktu makan, ada baiknya menyesuaikan dengan kecepatan makan tamu yang lain. Itu karena setiap hidangan akan disajikan berbarengan dan diangkat piringnya juga bersama-sama.

Bagi para vegan atau mereka yang memiliki alergi, ada baiknya menginformasikan kepada pihak restoran. Dengan begitu, konten makanan akan disesuaikan dengan Anda. (M-4)

BERITA TERKAIT