23 February 2020, 03:30 WIB

Gua Gong nan Eksotis


Riz/M-2 | Weekend

KABUPATEN Pacitan dijuluki sebagai Kota 1001 Gua. Kabupaten yang terletak di belahan barat daya Jawa Timur tersebut menyimpan banyak sekali gua dan yang paling terkenal ialah Gua Gong. Maka itu, belum sah rasanya jika ke Pacitan belum mengunjungi gua yang diklaim paling indah se-Asia Tenggara tersebut.

Jarak Gua Gong dari pusat Kota Pacitan sekitar 20 km dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Saat tiba di areal parkir Gua Gong, wisatawan memiliki dua opsi untuk mencapai pintu masuk, apakah ingin berjalan kaki atau menggunakan ojek. Jarak areal parkir ke pintu masuk sekitar 800 meter dengan medan yang menanjak. Jika ingin naik ojek, wisatawan cukup membayar Rp5 ribu. Kemudian, untuk tiket masuknya akan dikenai biaya sebesar Rp10 ribu per orang.

Sebelum memasuki mulut gua, Anda akan melewati jembatan yang menghubungkan pintu masuk dengan mulut gua. Berjalanlah santai karena pemandangan yang disuguhkan cukup indah, hamparan pepohonan hijau dari kejauhan tampak rindang dan menyejukkan.

Saat mendekati mulut gua, Anda harus menaiki sejumlah anak tangga sebelum kemudian tiba di mulut gua, tempat para pemandu berebut menawarkan jasa mereka serta penyewaan senter untuk menerangi perjalanan menyusuri gua sepanjang 256 meter tersebut.

Saat berkunjung, Media Indonesia dipandu seorang pemandu bernama Tumiyem untuk menjelaskan seluk-beluk gua dan sejarah penemuannya. Kepada Media Indonesia, Tumiyem bercerita tentang nama stalaktit dan stalakmit gua. Beberapa di antaranya bahkan diberi nama sesuai keindahan yang dimilikinya.

“Ada Selo Jengger Bumi, Selo Bantaran Angin, Selo Adi Citro Buwono, Selo Pakuan Bomo, Selo Citro Cipto Agung,” jelas Tumiyem.

Selain terdapat stalaktit dan stalakmit, terdapat juga bebatuan yang terbentuk dan tersusun secara alami, seperti marmer dan kristal, yang jika dilihat sekilas berkilauan.

Tidak hanya itu, areal dalam gua juga dihiasi aneka lampu berwarna-warni yang menambah semarak dan indah pemandangan di dalam gua. Stalaktit yang menggantung dan stalakmit yang menjulang tampak semakin memesona memantulkan cahaya lampu. Suasana di dalam gua sendiri tidak terlalu pengap karena pengelola memasang kipas-kipas di sejumlah sudut gua agar sirkulasi udara di dalam tetap baik.

“Gua ini ditemukan pada 1924 oleh sesepuh Pacitan yang bernama Mbah Joyo dan Mbah Noyo. Gua ini juga memiliki lima sendang (mata air), yaitu Sendang Jampi Rogo, Sendang Pangurip­an, Sendang Relung Jiwo, Sendang Kamulyan, dan Sendang Relung Nisto,” ujar Tumiyem.

Tumiyem menambahkan bahwa setiap sendang yang ada memiliki khasiat masing-masing yang dipercaya oleh masyarakat sekitar. Misalnya, Sendang Relung Nisto yang dipercaya dapat membuang sial bagi siapa pun yang mencuci wajah dan tangannya sebanyak tiga kali dengan airnya.

Gua ini, tuturnya, memiliki tujuh ruangan, ruang pertama dan kedua biasa dijadikan tempat berfoto wisatawan. Ruang ketiga, isinya perpaduan berbagai stalaktit dan stalakmit yang disebut dengan Selo Dudur Langit atau batu penyangga langit-langit bumi.

Ruangan keempat, wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan batu-batu, yaitu marmer dan kristal yang menyambung. Ruangan kelima, biasa dijadikan tempat untuk berfoto wisatawan dengan pemandangan batu-batu kristal. Ruangan selanjutnya, wisatawan akan melihat beberapa sendang di antaranya Sen­dang Relung Nisto yang dikenal untuk membuang sial.

“Barulah di ruang ketujuh adalah inti dari nama Gua Gong yang mana wisatawan dapat melihat keajaiban stalaktit yang jika dipukul mengeluarkan suara seperti alat musik gong,” papar Tumiyem.

Jika Anda tertarik menyusuri gua di­temani jasa pemandu wisata, cukup membayar Rp30 ribu untuk jasa mereka. Gua ini buka mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. (Riz/M-2)

BERITA TERKAIT