23 February 2020, 01:55 WIB

Inilah Empat Arahan Tren 2020


Try/M-1 | Weekend

SETIAP tahun berganti, tren fesyen juga mengalami pergantian. Para pakar fesyen menerjemahkan berbagai fenomena yang ada di masyarakat ke dalam potongan, warna, hingga motif pada busana.

Tahun ini, sejumlah pakar fesyen Indonesia memilih mengambil inspi­rasi dari isu kemanusiaan. Dewan Penasihat Indonesia Fashion Chamber (IFC) sekaligus peneliti fesyen Indonesia Trend Fashion (ITF) 2021/2022, Dina Midiani, mengungkapkan jika sisi kemanusiaan menjadi pendorong utama untuk tren fesyen mendatang yang menggambarkan definisi cinta, kepedulian dalam perspektif yang lebih global, yaitu kepada lingkungan dan sosial.

Berbicara dalam bincang-bincang Trend Forecasting di hari pertama ajang Muslim Fashion Festival (Muffest) 2020 di Jakarta, Kamis (20/2), Dina menjelaskan jika dari isu besar itu lahir empat konsep besar tren fesyen. Mereka ialah essentiality untuk kelompok orang-orang yang peduli, spirituality untuk kelompok yang sejak dulu peduli karena telah menjadi bagian budaya mereka, exploitation untuk mereka yang sebatas ikut-ikutan, dan exploration yang menggambarkan orang yang memanfaatkan teknologi untuk kelangsungan hidup ke depan.

Secara perinci, tema essentiality menunjukkan gaya yang minimalis atas dasar kesadaran untuk tidak berlebih­an. Tampilan busana yang tampak, yaitu bersih, tenang, terkendali, dan simpel ala anak urban, retro, dan autentik. Potongan pakaiannya akan longgar dengan warna terang, lembut, segar, pucat, dan natural. “Disertai dengan motif yang naive atau apa adanya,” kata Dina.

Konsep kedua berasal dari kelompok orang yang telah sejak dahulu melakukan kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Dalam lingkup Indonesia, dia merujuk kepada suku Asmat dan lainnya yang sejak dahulu telah menjalani kehidupan sadar lingkungan.

Karena mengacu pada kearifan lokal, pakaian mereka akan mencirikan budaya. Namun, dalam tren ini, terjemahan gaya itu bisa berwujud gaya klasik, gaya irregular karena alami, dan juga menggunakan bahan-bahan alam tanpa banyak proses pengolahan. “Dari motifnya banyak unsur etnik dan pekerjaan tangan, di antaranya rajutan,” kata lanjut Dina.

Sementara itu, gaya exploitation berwujud tampilan maksimal, hiperbolis, dan serbamenonjol. Warna-warna yang hadir dalam pakaian sangat berkilau dan mantap. Potongannya ada yang longgar dan kebesaran. Motifnya berupa bunga dan binatang dalam ukuran berlebihan.

Terakhir, kelompok konsumen exploration, mereka yang berpikir jauh ke depan. Mereka memanfaatkan teknologi untuk kelangsungan hidup ke depan. Gaya ini tergolong eksentrik, augmented, dan berbasis teknologi.

“Stylenya adalah pemimpi, beyond nature, paranoid, dan absurd. Bentuk-bentuknya akan multifungsi, warnanya hologram, kabur, dan banyak ornamen olah bahan dengan pemakaian teknologi,” tukas Dina. (Try/M-1)

BERITA TERKAIT