23 February 2020, 01:20 WIB

Spiritualitas Radhar dalam LaluKau


Gas/M-4 | Weekend

CAHAYA lampu di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (18/1) malam, itu, mulai redup. Tak lama kemudian, turunlah sebilah kotak kaca di sisi kanan panggung dan tampaklah sesosok pria berbaju putih melalui cahaya yang berpendar di kaca tersebut.

Pria itu pun berseru, “Pagi terbit tetaplah cerah, tetapi oksigen terasa busuk. Paru-paru perlahan raib, seperti tak menghendaki siang. Jalan padat, orang sekadar siuman, lalu-lalang tiada tujuan. Siapa begitu hidupnya, mondar-mandir memenuhi kota, ruang menciut, napas mengerut, maut dikejar, siap dijemput”.

Pria itu Radhar Panca Dahana. Pada kesempatan ini, ia membuka karya panggung dari Teater Kosong dengan judul LaluKau.

Radhar sendiri tampak begitu mencuri perhatian saat ditampilkan melalui teknologi video mapping malam itu. Baju dan kopiah putihnya seakan menambah cerah figur­nya yang ditembakkan ke kaca dengan cahaya yang keluar dari moncong proyektor.

Adapun LaluKau sendiri ialah pementasan yang diangkat berdasarkan salah satu karya tetralogi puisi berjudul sama milik Radhar. Buku yang menjadi bagian dari tajuk Lalu itu juga sudah terbit pada awal Februari lalu. Isinya berupa ekspresi pengalaman batin dan spiritualitas seorang Radhar.

Menurut Radhar, di balik semua pernyataan atau ­ekspresi personal yang ia bawa secara kolektif bersama anggota Teater Kosong, yang juga silih berganti di setiap pertunjuk­an selalu ada arus lain yang mungkin tidak terbaca oleh penonton ataupun para pemain hingga penata artistik.

“Yakni arus batin, arus yang mana dunia spiritual saya berlarian ke sana kemari mencari setapak yang lebat oleh onak duri menuju dunia batin itu: rumah hati yang sejak kecil bahkan saya ingin bertemu dengan penghuninya,” tutur Radhar dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia, sebelum jalannya pertunjukan.

Radhar juga mengatakan bahwa dirinya memberi kemerdekaan penuh pada para penonton ataupun pembaca untuk menikmati LaluKau. Mereka bebas menafsirkan atau menangkap signifikansi terhadap apa pun yang muncul di atas pentas.

Dalam pementasan kali ini Radhar tidak tampil sendiri. Ada sejumlah seniman dan musikus lain yang turut menjadi pementas di atas panggung, seperti Aning Katamsi, Deddy Mizwar, Niniek L Karim, dan Iwan Fals.

Semua penampil itu juga kebagian membawakan puisi dan lagu. Ada realitas digital, agama, kebangsaan, kebudayaan, baik aspek material maupun imaterial, yang disuguhkan dalam pementasan tersebut, yang juga dikemas dalam suasana murung, sedih, kecewa, dan barangkali sedikit marah.

Dalam puisi ke-11 yang di­bawakan Radhar malam itu, misalnya, isinya sarat dengan renungan atas kondisi di suatu negeri yang tengah ditempa bencana alam. Bukan hanya itu, ia juga membahas bencana lain yang datangnya dari adab atau peradaban manusia.

“Aku merasa pahitnya. Aku berduka, ketika negeri nahas tak henti. Saat bencana datang bertubi dan jiwa bangsa terancam mati. Tak hanya Palu hingga Dongala. Tak cuma Lombok sampai Jawa. Juga kota besar sampai desa terkucil. Dari pejabat besar hingga rakyat kecil. Bukan karena alam saja bikin binasa. Hancur adab manusia, lebih bahaya.”
 
Iwan Fals

Di sisi lain, Niniek L ­kariem kala membacakan puisi ­kesembilan tampak lebih banyak mengajak para penonton dan pendengar untuk merefleksikan diri dan suara hati. Perempuan kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, 14 Januari 1949, itu, tampil menggunakan kacamata dan hijab putih.

“Apa yang terjadi pada hati kita, saat pikiran merajalela? Mencipta dendam dan curiga. Berbekal prasangka dan dusta. Tidakkah ibu kalbumu meri­ngis? Dan hati guram didekap tangis? Apa yang terjadi dalam hidup kita? Rasa syukur bersaing angkara. Mencipta ancam cuma karena beda. Menyulut mesiu, hidup pun sirna. Tidakkah kau tahu mesiu itu bom waktu di kepala dan hatimu? Di mana anak istri berpacu dan merasakan cumbu menunggu,” tutur Niniek dalam suara lirih malam itu.

Deddy, menjelang ber­akhirnya pentas LaluKau, juga sempat membacakan puisi dengan diiringi musik yang terdengar wingit. Setiap baitnya semacam menjadi refleksi atas miskinnya pikiran dan pandirnya hati atas kepercayaan.

Tak lama kemudian, pentas lantas ditutup dengan penampilan para pembaca puisi yang bernyanyi bersama Iwan Fals. Sebelumnya, Iwan juga sempat menyanyikan lagu yang berisi renungan terhadap Tuhan YME.  (Gas/M-4)

 

BERITA TERKAIT