23 February 2020, 01:05 WIB

Delapan Sohib Menafsir Foto


Furqon Ulya Himawan | Weekend

SEORANG perempuan tua mengenakan baju bermotif dedaunan sedang duduk termenung seorang diri. Diam, tak ber­gerak. Tangannya memegang sarung kotak-kotak. Tubuhnya yang renta bertumpu pada tumpukan pakaian lusuh dan sepatu bekas yang talinya sudah pada hilang.

Tak jelas berapa umurnya, hanya kulit di wajah yang menunjukkan betapa rentanya perempuan itu--tak lagi mulus dan penuh kerutan. Kantong matanya jelas terlihat dan tatapan matanya sayu, lurus menerawang ke depan. Dahinya berkerut ke atas seolah sedang memikirkan sesuatu, entah.

Perempuan itu, 13 tahun silam, berada di Semarang, Jawa Tengah. Sekarang, entah di mana. Yang pasti, perempuan itu terabadikan dalam bingkai yang terpajang di ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Selasa (18/2).

‘Foto ini bercerita tentang jalan hidup manusia yang kurang beruntung,’ tulis Oei Hong Djien, mencoba me­nerangkan apa yang dialami si perempuan tua itu.

Foto perempuan itu bukanlah hasil jepretan Oei Hong Djien. Sang kolektor karya seni ini hanya menafsirkannya. Foto perempuan yang duduk di atas tumpukan sepatu dan pakaian bekas itu ialah karya Agus Leonardus, seorang fotografer Indonesia yang sedang menggelar pameran tunggal bertajuk When I’m 64 di BBY, pada 18-24 Februari 2020.

“Saya berterima kasih kepada dr Oei Hong Djien,” kata Agus Leonardus saat pembukaan pameran di BBY, Selasa (18/2) malam.

Pameran When I’m 64 tergolong unik, bukan Agus yang memberi keterangan foto layaknya seorang fotografer memberi keterangan fotonya. Agus meminta delapan teman karibnya: Oei Hong Djien, Bernie Liem, Eddy Hasby, Arbain Rambey, Oscar Matuloh, Seno Gumira Ajidarma, Shindunata SJ, dan Suwarno Wistrotomo, masing-masing memilih delapan foto dan menuliskan keterangan foto itu.

Mereka bebas memilih foto apa saja. Seperti kolektor seni rupa Indonesia, Oei Hong Djien yang memilih foto sosok perempuan tua di atas tumpukan pakaian dan sepatu. Katanya, wanita tua itu ­karakternya keras. Meski hidupnya tak beruntung, dia tetap bekerja.

‘Menunjukkan karakter keras. Seorang wanita yang mengalami hidup yang sulit, tapi menerima nasibnya dan tetap menekuni pekerjaannya,’ jelas Oei Hong Djien.

Di sisi sebelah utara, ada foto pilihan kurator seni rupa Suwarno Wisetrotomo. Suwarno memilih foto Agus yang mengabadikan peristiwa di Wamena, Papua, pada 2011, yakni deretan orang-orang yang duduk beralas tanah di kolong panggung dan orang-orang yang duduk di atas panggung. Sebuah pemandangan yang sangat kontras.

Jika melihat foto jepret­an Agus begitu saja, sekilas akan mengundang tafsir dan ­prasangka yang macam-macam.

Suwarno memberikan tulisan yang cukup kritis, begini bunyinya, ‘Suatu distrik, suatu penanda, dengan cerita ­berlapis bermuatan persoalan manusia, kemanusiaan, politik, ekonomi, keadilan, diskriminasi, dan kesejahtera­an yang tak pernah selesai: Wamena, Papua’.

Tak berhenti di situ, Suwarno mencoba memahami foto Agus dengan pendekatan budaya yang ada di Indonesia. Dia memaknai orang-orang yang duduk di atas panggung sebagai ‘para tamu’ dan mereka yang glengsotan di bawah panggung beralas tanah sebagai ‘para tuan rumah’, serta menambahkan sebuah tulisan yang sangat kontemplatif.

Bagi Suwarno, budaya mana pun di Indonesia tamu akan diperlakukan khusus. Misalnya, dalam sebuah pertunjukan, tamu mendapat tempat duduk yang lebih baik, sedangkan tuan rumah akan mengalah karena ingin memuliakan tamu.

‘Bidikan Agus Leonardus mengajari kita untuk memahami rekaman peristiwa dengan mata budaya dan mata kemanusiaan, agar terbebas dari gelora prasangka,’ tulis Suwarno.

Masih di sisi sebelah utara, terdapat foto seorang penarik becak yang sedang mengayuh becaknya di jalan. Sambil mengayuh, tukang becak menengok ke kiri melihat sebuah mural di tembok. Mural itu menggambarkan tiga sosok anak lelaki tanpa baju dan sedang asyik bermain.

Foto karya Agus Leonardus itu dipilih mantan fotografer Kompas, Eddy Hasby. ‘Seandai­nya saja penarik becak ini wajahnya memandang ke depan, sepertinya hanya becak tengah melintas. Namun, ketika ia memandang lukisan mural, foto ini memiliki kesan yang lain,’ tulis Eddy Hasby dalam foto Agus.

Benar. Melihat foto itu seakan sang penarik becak menengok ke mural karena anak-anak dalam gambar itu memanggilnya. ‘Tiga anak dalam lukisan mural ini memperkuat kesan seakan tengah menghalau becak di hadapan mereka,’ imbuh Eddy Hasby.

Human interest

Agus Leonardus sudah lama bergelut di dunia fotografi. Salah satu karyanya yang fenomenal ialah penarik becak yang sedang menonton pertandingan sepak bola di Stadion Mandala Krida. Agus juga pernah menggelar pameran tunggal di BBY pada 1995 bertajuk Kata Hati.

Di pameran When I’m 64, kali ini, Oscar Matuloh dalam pengantar pameran mengatakan Agus ialah fotografer yang kerap memotret di sudut-sudut jalan, kerap menonjolkan kehidupan masyarakat bawah yang sering terlupakan.

Jika dijumlah, total foto mencapai 64 buah. Jumlah itu sesuai dengan usia Agus Leonardus, 64. Itulah mengapa tema pameran When I’m 64, yang kebetulan sama dengan judul lagu yang pernah ditulis The Beatles.

Sayangnya, pengunjung tak bisa menikmati semua foto yang terpilih karena tak semua foto itu terpajang, hanya ada sekitar 36 lembar. Sisanya ada dalam buku yang juga malam hari itu diluncurkan dengan judul yang sama. (M-4)

 

BERITA TERKAIT