23 February 2020, 00:15 WIB

Mari Elka Pangestu: Impian sejak Lama Bekerja di Bank Dunia


Uca/M-4 | Weekend

DENGAN terpilihnya Mari Elka Pangestu menjadi Direktur Pelaksana, Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia pada Januari lalu, tidak hanya memberikan kabar baik bagi performa Indonesia di kancah dunia, tetapi juga menjadi hal yang sangat personal bagi Mari. Pasalnya, selepas menamatkan studi doktoralnya, mantan Menteri Perdagangan itu sudah bercita-cita bekerja di Bank Dunia yang berpusat di ibu kota Amerika Serikat (AS), Washington DC.

“Dulu mimpi saya adalah untuk kerja di Bank Dunia, jadi waktu saya selesai S-3, saya sudah mempunyai rencana untuk apply ke World Bank sebagai entry level, sebagai young profesional,” ungkap Mari yang ditemui di ruangannya, di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang mana ia duduk sebagai Senior Fellow, Kamis (20/2).

Mendengar keinginan Mari, sang ayah, J Panglaykim yang juga seorang ekonom, memberi pandangan agar putrinya tersebut lebih dulu berkiprah dan berkontribusi pada bangsa dan negara. Jiwa nasionalis yang disemai dari ayahnya itu pula membawa Mari bercita-cita untuk bekerja di bidang ekonomi pembangunan sejak duduk di bangku S-1 di Australian National University (1979).

“Waktu saya cerita itu ke ayah saya, saya justru dibalikin dimarahin, kamu pulang dulu, ya, kamu jangan ke Bank Dunia bantu negara lain, kamu harus pulang bantu negara kamu dulu. Itu menunjukkan jiwa nasionalis dia dan kecintaan dia pada Indonesia, dan akhirnya saya pulang,” tutur Mari.

Jadi, kata Mari, keinginan dia bekerja di World Bank baru tercapai 30 tahun kemudian. Itu pun setelah dia berkarya di Indonesia dan mempunyai pengalaman yang luar biasa di dalam ekonomi pembangunan negara sendiri. “Kita enggak pernah tahu destiny kita, saya beberapa kali coba atau dinominasi untuk masuk ke lembaga internasional enggak pernah berhasil sampai dengan sekarang,” sambungnya.

Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia itu mengaku sejak kecil orangtuanya banyak mengajarkan tentang pentingnya pendidikan dan kerja keras. Hal itulah yang tertanam di benak Mari hingga berhasil meraih gelar doktor ekonomi dari University of California at Davis (1986). Tak hanya itu, sejak kecil, ia juga dididik orangtuanya untuk dapat mandiri secara finansial sekalipun ia merupakan anak perempuan satu-satunya di dalam keluarga.

“Orangtua saya pada waktu mereka masih kecil, masih muda, mereka mengalami zaman susah, zaman perang, sehingga mereka selalu mendidik saya untuk menghargai pendidikan,” ujar Mari.

Sekalipun sedari kecil banyak menghabiskan waktu tinggal di luar negeri, Mari mengaku selalu akan merindukan banyak hal dari Indonesia yang disebutnya sebagai surga itu. Ia menyebut yang pertama akan dirindukannya ialah mi bakso. Setelah itu, ibu dari dua orang putra tersebut menyebut akan merindukan teman-teman, keluarga, dinamika kehidupan Indonesia, hingga tukang pijat. (Uca/M-4)

BERITA TERKAIT