22 February 2020, 09:33 WIB

Wae Rebo Menjadi Alternatif Labuan Bajo


Palce Amalo palce@mediaindonesia.com | Nusantara

OBJEK wisata yang berdekatan dengan destinasi superpremium Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mulai ditata untuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Salah satunya Desa Wisata Wae Rebo, agar wisatawan memiliki pilihan alternatif selain Labuan Bajo.

"Penataan Desa Wisata Wae Rebo dilakukan tahun ini," kata Kepala Dinas Pariwisata NTT Wayan Darmawa, kemarin. Desa tersebut berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Menurut Wayan, anggaran penataan destinasi tersebut bersumber dari APBD NTT meliputi penataan lokasi wisata, rest area, suvenir, dan ruas jalan menuju lokasi tersebut. Setelah ditata, diharapkan dapat mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

"Penataan ini untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang berkunjung ke sana, tetapi tidak mengubah keunikan lokasi tersebut," tambahnya.

Selama ini, wisatawan yang ingin mengunjungi Desa Wae Rebo, dari Labuan Bajo harus terlebih dahulu menempuh perjalanan ke Desa Denge atau desa terakhir yang dapat diakses menggunakan kendaraan bermotor. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 7 kilometer dengan medan menajak dan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Wae Rebo berudara dingin dengan panorama bukit-bukit hijau yang memesona. Penduduk desa itu tinggal di tujuh rumah adat (mbaru niang), yang konon telah bertahan selama tujuh generasi.

Menurut Wayan, setelah Wae Rebo rampung ditata, pada tahun anggaran berikutnya, pemerintah akan menata destinasi wisata lainnya untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan sektor periwisata sebagai penggerak utama ekonomi masyarakat.

Pasar kuliner

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga, Jawa Tengah, juga terus mendorong setiap desa untuk mengembangkan potensi wisata masing-masing. Salah satu desa itu ialah Serayularangan di Kecamatan Mrebet, yang membangun Pasar Lohjinawi. Pasar yang diresmikan pada 9 Februari lalu itu hanya buka setiap Minggu dan mewadahi para pedagang yang menyajikan kuliner khas setempat, antara lain makanan berbahan dasar oyek, muntul, dan buntil.

Para pengunjung yang ingin menikmati kuliner di pasar tersebut harus terlebih dahulu menukarkan uang rupiah dengan benggol sebagai alat tukar khusus di pasar tersebut. "Pasar Lohjinawi sengaja kami ciptakan sebagai destinasi wisata kuliner setiap akhir pekan," kata Kepala Desa Serayularangan Fajar Prasetyo Utomo, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pasar tersebut dibangun melalui dana desa dan bantuan keuangan khusus Pemkab Purbalingga senilai Rp85 juta. Saat peresmian pasar pada 9 februari lalu, Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi juga memberi bantuan Rp20 juta untuk pasar tersebut.

Desa Serayularangan dinilai sebagai salah satu desa yang inovatif di kabupaten itu. Dengan adanya Pasar Lohjinawi sebagai destinasi wisata kuliner, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi kerakyatan.

Sementara itu, Pemkab Purwakarta, Jawa Barat, pada tahun ini menargetkan 3 juta kunjungan wisatawan ke wilayah itu. Target tersebut meningkat dari kunjungan pada 2019 yang tercatat 2,8 juta wisatawan. (LD/RZ/AU/N-1)

BERITA TERKAIT