22 February 2020, 00:07 WIB

Siap Evakusai WNI, KRI Dr Soeharso Tunggu Lampu Hijau Pemerintah


Muhammad Reysa | Humaniora

KAPAL Republik Indonesia (KRI) Dr. Soeharso 990 siap mengevakuasi 74 WNI yang berada di Kapal Diamond Princess di Yokohama, Jepang. Kapal ini siap diberangkat jika mendapat lampu hijau dari pemerintah.

“Untuk presentasi (kesiapan) sendiri kita TNI dari dua hari lalu diperintahkan berangkat, kita berangkat. Namun demikian, kita secara hierarki akan menunggu perintah dari Panglima Armada berjenjang keatas, pak KASAL atau Panglima TNI. Secara umum saya katakan siap, kita menunggu perintah dari komando atas.” ungkap Komandan KRI Dr. Soeharso, Letkol Laut (P) Joko Setiyanto di anjungan KRI Dr. Soeharso, Surabaya, Jumat (21/2).

Secara fasilitas, KRI Dr. Soeharso dinilai telah memadai. Joko menyebut saat ini masih ada yang harus dimodifikasi, terutama pada ruang isolasi.

“Ruang isolasi kita siapkan khusus, diruang tersebut benar-benar steril, didampingin KKP Kementrian Kesehatan dan tim kita sendiri. Setelah itu kita telah lakukan simulasi kita bikin jalur evakuai, dimulai dari tank deck, jalurnya kemana saja kita sudah simulasikan” kata Joko.

Joko juga memastikan selama masa observasi, akan dipastikan aman dan tidak ada kontak dengan ABK Kapal KRI dr. Soerharso.

Baca juga : Tebar Hoaks soal Korona, Perempuan Indonesia Dibui di Malaysia

Dari pantaun Metro TV, sejumlah persiapan terus dilakukan di kedua geladak kapal. Persiapan yang terlihat diantaranya pemasangan CCTV dibeberapa sudut ruangan, pemasangan sekat ruangan, pengaturan sirkulasi udara, pengecekan kelengkapan medis serta pengecekan fasilitas ruang istirahat WNI yang berada di hanggar kapal.

KRI Dr. Soeharso memiliki 6 geladak kapal dari A hingga F. Dua dari enam geladak tersebut yakni Geladak B dan C diperuntukkan sebagai tempat obervasi 74 WNI yang  nantinya dievakuasi.

Geladak B diperuntukkan sebagai ruang perawatan, sementara geladak C diperuntukkan sebagai ruang tindakan medis dan ruang istiharat WNI.

Geladak B terdiri dari dua ruang perawatan. Masing-masing ruangan dilengkapi dengan 20 ranjang. Kapasitas ruangan perawatan bisa ditambah hingga 30 ranjang. Jika selama masa obervasi ada WNI yang sakit akan ditempatkan di ruang perawatan ini. Disamping ruang perawatan, terdapat ruang makan, ruang dokter, toilet dan kamar mandi.

Sementara Geladak C terbagi atas dua bagian yakni ruang istirahat WNI dan ruang tindakan medis.

Baca juga : Korona Merebak di Penjara, Sejumlah Pejabat Tiongkok Dipecat

Ruang istirahat WNI berada di hanggar dalam (indoor). Ruangan ini dilengkapi 74 velbett dan 10 pendingin ruangan. Nantinya para WNI selama masa observasi akan beraktivitas di hanggar kapal, baik indoor maupun outdoor.

Selanjutnya, masih di geladak C, terdapat sejumlah ruangan penindakan medis. Diantaranya, ruang UGD, laboratorim, ruang isolasi, ruang operasi, dan apotek. Ruangan ini difungsikan untuk menangani WNI jika mengalami gangguan kesehatan atau sakit sehingga langsung ditangani tim dokter.

Termasuk jika selama masa obervasi ditemukan ada WNI yang memliki gejala terjangkit virus corona Covit – 19, maka akan dimasukkan kedalam isolation chamber yang telah disiapkan.

Geladak B dan geladak C akan steril dari aktivitas ABK lainnya. Sistem sirkulasi udara telah dibuat berbeda sehingga tidak tercampur dengan ruangan lainnya.

Akses untuk masuk ke geladak B dan C juga telah ditutup dan dipasangi sekat sehingga tidak dapat dimasuki oleh ABK Kapal. (MetroTV/OL-7)

BERITA TERKAIT