21 February 2020, 10:14 WIB

Seratus Ribu Orang Akan Hadiri Aksi 212 Berantas Mega Korupsi


Ilham Ananditya | Megapolitan

Aksi unjuk rasa 212 kali ini diselenggarakan oleh tiga kelompok besar sebagai inisiator, yaitu PA 212, GNPF Ulama, dan FPI. Demo kali ini rencananya akan dilaksanakan di depan Istana Presiden dan silang Monas Barat yang bertajuk 'Aksi 212 Berantas Mega Korupsi Selamatkan NKRI'. Demo hari ini (21/2) intinya mendesak pengusutan berbagai kasus korupsi yang jalan di tempat.

Kasus yang menjadi poin utama adanya unjuk rasa ini adalah penyelesaian kasus suap yang melibatkan eks Caleg DPR RI dari PDIP Harun Masiku dan bekas anggota KPU RI Wahyu Setiawan. Kemudian, kasus korupsi dan TPPU yang melibatkan Honggo Wendratno selaku Direktur PT Trans Pacific Petrochemical Indotama dan kasus Asuransi Jiwasraya.

Novel Bamukmin, Ketua Media Center PA 212 juga menuturkan alumni 212 akan ikut unjuk rasa. "Korlap sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian. Masa diperkirakan kurang lebih 100 ribu-an dari Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten serta perwakilan beberapa daerah dari seluruh Indonesia," kata Novel kepada Media Indonesia, Kamis (20/2).

Tuntutan kami, lanjut Novel, adalah usut tuntas mega korupsi yang terparah sepanjang sejarah Indonesia dan tangkap Harun Masiku. "Selain itu, ganti pimpinan KPK dan bubarkan partai terkorupsi, yaitu partai PDIP," lanjutnya.

Menurut Novel, unjuk rasa tak hanya dilakukan tigas ormas saja, tapi ada juga ormas lainnya. "Saya sebutkan satu per satu. Ada Bang Japar, Pejabat, Brigade 212, dan Jawara 411. Ke depan kita akan terus melakukan secara rutin aksi lawan mega korupsi sampai korupsi ini diusut tuntas untuk selamatkan negeri," tegas Novel.

Baca juga: KPK Ultimatum Pihak yang Sembunyikan Harun Masiku

Edy Mulyadi selaku Jubir PA 212 di unjuk rasa kali ini juga mengajak dan para korban asuransi Jiwasraya untuk ikut aksi untuk meramaikan demo tersebut.

"Kita tuntuk hak-hak kita. Kita berikan dukungan dan tekanan kepada penguasa, khususnya untuk aparat hukum KPK agar mengusut tuntas mega korupsi yang sangat menyengsarakan masyarakat ini secara transparan. Harus terbuka, tegas, tidak tebang pilih. Dan karena kita korban adalah bukan cuma umat Islam, maka kita minta dan mengajak juga mereka yang beragama lain untuk turun bersama-sama. Karena ini merupakan aksi kita semua, rakyat Indonesia yang merasa dirugikan korupsi," ungkap Edy.

Menurutnya, korupsi itu kejahatan luar biasa. Oleh karena itu harus selesaikan dengan cara-cara yang luar biasa. Tidak bisa dengan cara normal dan konvensional atau cara biasa. Salah satunya melalui aksi 212 turun ke lapangan.

"Persiapan sudah boleh dikatakan clear dan pemberitahuan kepada polisi sudah kita ajukan. Bahkan surat tanda pemberitahuan juga sudah dikeluarkan polisi. Semua (akan) berjalan tertib lancar dan tujuannya sesuai dengan sama-sama yang kita inginkan," tutup Edy. (OL-14)

 

BERITA TERKAIT