21 February 2020, 00:44 WIB

Analisis Risiko Bisa Digunakan Deteksi Virus Korona di Indonesia


Antara | Humaniora

PEMERINTAH bisa melakukan analisis risiko COVID-19 dengan menghitung jumlah orang yang masuk ke Indonesia dari negara terdampak virus tersebut,

Ahli epidemiologi atau ilmu tentang penyebaran penyakit menular, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, risiko itu tergantung pada jumlah orang yang masuk dari negara terdampak virus yang bermula di Wuhan, Tiongkok itu.

"Kalau Indonesia dibanding Singapura, risikonya lebih tinggi Indonesia karena jumlah orang yang masuk lebih tinggi tapi kasus di Singapura lebih banyak," kata akademisi Universitas Indonesia itu dikutip dari Antara.

Sampai Kamis (20/2) malam, dilaporkan COVID-19 telah menginfeksi 75.752 orang di 26 negara dengan 74.579 kasus tercatat di daratan Tiongkok.

Total 2.130 orang meninggal karena penyakit tersebut dan 16.882 orang dinyatakan sembuh dari COVID-19 setelah menjalani perawatan.

Indonesia sejauh ini sudah menutup penerbangan dari dan ke Tiongkok sejak awal Februari untuk mengurangi risiko penularan wabah yang disebabkan virus korona itu.

Baca juga : IDI Minta Puskemas Aktif Deteksi Dini Virus Korona

Tapi sejauh ini, belum ada peringatan untuk negara lain yang sudah terkonfirmasi memiliki kasus positif COVID-19.

Singapura sudah bisa melakukan tracking atau pelacakan karena sudah memiliki kasus, sementara Indonesia sejauh ini belum memiliki dugaan kasus yang terkonfirmasi sebagai infeksi COVID-19.

Sejauh ini sudah ada 112 sampel yang diperiksa oleh Kementerian Kesehatan dengan 110 sudah dinyatakan negatif dari COVID-19.

Indonesia sendiri sudah memiliki alat PCR untuk mendeteksi wabah itu dan sudah terakreditasi oleh World Health Organization (WHO).

Alat PCR itu dapat digunakan juga tidak hanya untuk mendeteksi COVID-19 tapi juga penyakit lain yang disebabkan oleh virus korona jenis lain seperti SARS dan MERS, yang sama-sama menyerang pernapasan.

"Artinya jika dinyatakan positif oleh PCR itu salah satu keluarganya coronavirus terdeteksi, meskipun tidak spesifik COVID-19. Artinya jika dinyatakan negatif di PCR berarti semua keluarganya coronavirus tidak ada," kata Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Faqih yang hadir dalam diskusi yang diselenggarakan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) itu. (Ant/OL-7)

BERITA TERKAIT