21 February 2020, 00:04 WIB

Selaraskan Kebijakan Ekonomi Tangani Dampak Virus Korona


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

DAMPAK virus korona COVID-19 dari Tiongkok menimbulkan ketidakpastian baru pada perekonomian dunia. Melemahnya ekonomi negara yang berkontribusi sebesar 17% pada Produk Domestik Bruto (PDB) dunia itu menjalar ke negara lainnya.

Indonesia sebagai salah satu mitra dagang Negeri Tirai Bambu mau tak mau terdampak dari turunnya produktivitas Tiongkok karena virus korona. Selain perdagangan, sektor pariwisata menjadi bagian yang ikut terdampak.

Untuk itu pemerintah mengambil kebijakan yang dianggap dapat menjadikan ekonomi Indonesia berdaya tahan. Misalnya saja, pemerintah tekah mengubah skema penyaluran dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) yang diharapkan dapat menjaga ketahanan ekonomi nasional dengan meningkatkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Skema yang digunakan oleh kemenkeu ialah penyaluran TKDD di tahap pertama sebesar 40%, di tahap kedua 40% dan di tahap ketiga 20% (sebelumnya 20-40-40).

Perubahan skema itu diharapkan mampu mendorong produktivitas daerah dan menjaga daya beli masyarakat. Diharapkan pula akan terjadi pemerataan belanja daerah dan pusat di tiap triwulannya.

Baca juga : Pakar Kesehatan : Virus Korona di Korut Bisa Lebih Mematikan

Hal itu diamini oleh Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir saat dikonfirmasi mengenai langkah pemerintah untuk menyelaraskan kebijakan BI.

"Sebelumnya sudah dikemukakan presiden, menko ekonomi dan menparekraf beberapa langkah yang akan dilakukan adalah percepatan pengeluaran anggaran pusat dan daerah termasuk dana desa," ujarnya kepada Media Indonesia, Kamis (20/2).

Lebih khusus, kata dia, untuk menghadapi tekanan global, terutama dampak virus korona, pemerintah tengah menggodok pemberian insentif pariwisata. Hal itu dilakukan untuk menguatkan sektor pariwisata dalam negeri yang kini melemah akibat virus korona.

"Insentif berupa discount tiket dan hotel. Kebijakan detailnya dibahas kementerian-kementerian teknis terkait, saya tidak bisa elaborasi lebih lanjut," terang Iskandar.

Berdasarkan informasi yang diterima, insentif di bidang pariwisata itu akan diberikan dalam bantuan promosi kepada pelaku industri online travel agent (OTA/biro perjalanan daring) dan maskapai. Itu bertujuan untuk meningkatkan permintaan oleh pengguna lokal maupun mancanegara.

Sementara, ekonom dari Bank Permata Josua Pardede menyebutkan, keputusan BI untuk menurunkan suku bunga acuan merupakan hal yang tepat. Pasalnya, merebaknya virus korona menimbulkan ketidakpastian baru bagi perekonomian global maupun Indonesia.

"Pelonggaran kebijakan moneter tepat dalam rangka mempertahankan momentum pemulihan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini," ujarnya.

Ia menambahkan, BI masih memiliki ruang untuk kembali melakukan pemangkasan suku bunga acuan. Menurutnya pelonggaran tersebut dapat dilakukan dengan menyesuaikan peristiwa virus korona.

"Apabila COVID-19 (virus korona) terjadi berkepanjangan, maka dampaknya pada perekonomian global tentu akan signifikan, sehingga diperlukan lanjutan bauran kebijakan yang akomodatif untuk mendorong aktivitas ekonomi domestik," jelasnya.

Baca juga : Akibat Virus Korona, Dua Penumpang Diamond Princess Meninggal

Kemudian, menurut Josua, di sisi fiskal, pemerintah perlu membuat kebijakan yang mampu mendorong peningkatan produktivitas belanja pusat dan daerah. Itu bertujuan untuk menguatkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang memang menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional.

Kebijakan pemerintah untuk memberi stimulus dalam rangka menjaga daya beli masyarakat dapat dilakukan dengan belanja sosial pemerintah kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

"Selain itu, kebijakan yang akomodatif bagi sektor riil juga perlu didorong dalam rangka menjaga iklim usaha tetap kondusif di tengah masih tingginya ketidakpastian global," pungkas Josua.

Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Penurunan juga dilakukan pada suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 4,00%, suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%.

"Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran, stabilitas eksternal yang aman, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global sehubungan dengan terjadinya Covid-19 (korona virus)," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers di gedung BI, Jakarta, Kamis (20/2). (OL-7)

BERITA TERKAIT