20 February 2020, 22:37 WIB

Jawab Tantangan, Wyata Guna Terus Lakukan Inovasi


Bayu Anggoro | Nusantara

TRANSFORMASI dan perubahan yang cepat terhadap dinamika serta kebutuhan publik akan layanan yang efektif dan efisien perlu direspon dengan adanya inovasi.

Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna di Bandung sebagai pelaksana rehabilitasi sosial hadir untuk memberikan pelayanan terbaik dalam proses rehabilitasi sosial.

Baca juga: Tidak Ada Pengusiran, Warga Disabilitas Kembali ke Wyata Guna

Salah satu inovasi BRSPDSN Wyata Guna yaitu meluncurkan dua aplikasi daring berbasis online dengan pendekatan teknologi informasi oleh penyandang disabilitas sensorik netra. Aplikasi daring tersebut bernama 'LAPAK SPA' yang merupakan pengembangan inovasi pelayanan publik di bidang jasa serta manifestasi dari implementasi program rehabilitasi sosial lanjut yang dilaksanakan secara Holistik, Sistematik dan Terstandar.

Aplikasi Daring 'LAPAK SPA' digagas untuk memberikan kecepatan dan jangkauan lebih luas dalam layanan pijat massage, shiatsu, pijat spa Rumah Bugar Wyata Guna. Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula launching bagi aplikasi 'SIPAMERWYNA' yang merupakan Aplikasi pengelolaan database Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial Wyata Guna untuk mengolah data menjadi informasi yang cepat, akurat dan terukur guna menghadirkan pelayanan publik yang prima.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Edi Suharto mengapresiasi hadirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah yang bertujuan menciptakan sinergitas dan integritas layanan rehabilitasi sosial. Dengan begitu, menurutnya rehabilitasi  sosial sekarang memiliki konsep baru sebagaimana amanah dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2019 Tentang Pekerja Sosial serta Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Disabilitas.

"Secara jelas kedua peraturan perundang-undangan tersebut menjelaskan bahwa rehabilitasi sosial terdiri dari dua bentuk. Pertama, rehabilitasi sosial dasar yang dilaksanakan di dalam maupun di luar panti yang menjadi tanggungjawab gubernur/bupati/wali kota," katanya saat menghadiri peluncuran aplikasi tersebut.

Adapun yang kedua, rehabilitasi sosial lanjut yang dilaksanakan di dalam maupun di luar balai dan loka menjadi tanggungjawab Kementerian Sosial dalam hal ini kewenangan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.

"Aplikasi Daring 'LAPAK SPA' juga merupakan bagian dari wujud pengembangkan keterampilan dan pemberdayaan penyandang disabilitas sensorik netra dalam platfom baru program rehabilitasi sosial lanjut dengan pengembangan kapabilitas sosial dan tanggungjawab sosial sebagai outputnya," kata dia.

Dia menambahkan, hasil yang ingin dicapai pada kegiatan ini adalah tersampaikannya materi perubahan layanan rehabilitasi sosial panti menjadi balai.

"Juga tersampaikannya materi rehabilitasi sosial tingkat  lanjut PDSN BRSPDSN Wyata Guna dan memperoleh masukan terhadap pelayanan yang ada di Wyata Guna," katanya.

Dengan hadirnya aplikasi ini, pihaknya berharap dapat terjalin hubungan yang harmonis antara Wyata Guna dengan pihak terkait lainnya. "Sehingga bisa bersinergi dan berkolaborasi dalam menjalankan program rehabilitasi sosial demi kemandirian penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia," katanya. (BY/A-1)

BERITA TERKAIT