21 February 2020, 10:10 WIB

Awas, Ini bahaya yang Mengintai di Balik Ketombe


Galih Agus Saputra | Weekend

MASALAH ketombe terlihat sepele. Tapi, tahukah Anda, masalah tersebut ternyata juga bisa menjadi persoalan cukup serius, terlebih pada mereka yang tengah mengalami gangguan kekebalan tubuh (imunosupresi)?

Sebuah penelitian yang ditulis Ahli Jamur dari Fungal Biodivesity Institute, Utrecht, Belanda, Teun Boekhout beberapa waktu lalu menjelaskan, ketombe pada dasarnya berasal dari jamur Malassezia. Ia merupakan komponen integral dari mikrobiota kulit. Oleh karena itu ia tidak bisa diberantas melainkan harus mendapat 'pengendalian populasi'.

Kulit kepala manusia yang sehat sebenarnya juga berdasarkan campuran bakteri dan Malassezia yang seimbang. Akan tetapi, Teun menjelaskan, adanya penurunan sistem kekebalan tubuh pada manusia dapat mengganggu proses keseimbangan itu yang pada tahap selanjutnya turut menyebabkan berbagai penyakit kulit.

Infeksi aliran darah karena Malassezia sebenarnya jarang terjadi. Akan tetapi, ia bisa menyerang bayi prematur maupun pasien imunosupresi yang tengah mendapat perawatan intensif. Dalam kasus seperti itu, infeksi bisa terjadi berkat meresapnya jamur melalui pembuluh darah (kateterisasi), atau juga bisa disebut sebagai proses terfasilitasinya internalisasi ragi, baik dari kulit pasien sendiri atau dari orang lain.

"Sebagai manusia, kita dilindungi Malassezia secara langsung tetapi itu tidak semuanya. Malassezia bersifat lipofilik, artinya mereka menyukai lemak. Kulit manusia mengandung kelenjar sebaceous yang menghasilkan lemak untuk melumasi kulit sehingga tahan air, dan Malassezia menyedot lemak ini untuk menggunakannya sebagai sumber energi utama," tutur Teun, sebagaimana dilansir Sciencedaily.

Teun selanjutnya menjelaskan bahwa, ketika jamur telah memetabolisme lemak di permukaan kulit, ia akan membentuk produk yang berpotensi memicu reaksi yang cukup berbahaya. Ada kemungkinan pula Malassezia terlibat dalam pengembangan kanker kulit, karena beberapa produk pemecahan lemaknya dapat mengaktifkan jalur-jalur penyebab tumor, yang juga dapat dipicu dengan adanya sinar matahari.

Identifikasi infeksi jamur ini, lanjut Teun, pada dasarnya cukup sulit. Ia tidak bisa dites melalui urin, akan tetapi bisa segera hilang dengan terapi dan obat anti jamur bila dokter sudah benar-benar mengetahui bahwa Malassezia telah menjadi biang keladi.

Dalam paparannya, Teun juga menjelaskan bahwa Malassezia merupakan salah satu jamur yang ekosistemnya cukup luas. Selain di kulit kepala, dia juga bisa hidup di berbagai kulit hewan berdarah dingin, termasuk menempel pada karang yang terendam air laut. Para ilmuwan, menurutnya, juga pernah menemuinya di berbagai tempat dimana jamur itu memengaruhi kondisi lingkungan. (M-4)

 

BERITA TERKAIT