20 February 2020, 15:29 WIB

Wapres : Bank Wakaf Mikro Pintu Masuk Ekonomi Syariah


Yusuf Riaman | Nusantara

BANK Wakaf Mikro (BWM) yang dikembangkan di pesantren-pesantren harus menjadi pintu masuk pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

"Kita ingin dorong CSR BUMN nanti bisa dimarger untuk pengembangan Bank Wakaf Mandiri supaya pertumbuhannya lebih baik," kata Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, seusai meresmikan BWM Ahmad Taqiuddin Mansur (ATQIA) di Pondok Pesantren Al Manshuriyyah Ta'limusshibiyan di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (20/2).

Peresmian ini dihadiri oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr Zulkieflimansyah, Chief Executive Officer Asuransi Astra Rudy Chen, dan Chief of Astra Financial Adi Sepiarso.

Ma'ruf Amin menjelaskan, kehadiran BWM ini sangat membantu pesantren-pesantren dalam menumbuhkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Karena itu, ia mengharapkan dana wakaf yang memiliki potensi yang sangat besar tersebut bisa dikembangkan agar semakin banyak UMKM yang bisa digarap mengingat BWM ini sangat terbatas.

Dia mengatakan, dana sosial, terutama wakaf dan zakat sangat penting dalam membangun ekonomi umat. Ma'ruf  menjelaskan, zakat saat ini baru sekitar Rp8 triliun atau 3,5 persen dari potensi sebesar Rp230 triliun per tahun yang bisa digarap.

''Potensi ini yang akan kita dorong agar menjadi kekuatan bagi pengembangan ekonomi umat,'' tandasnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Asuransi Astra Rudy Chen mengatakan, pihaknya sangat mendukung pendirian BWM ini karena hal tersebut sejalan dengan visi perusahaan yakni memberikan peace of mind kepada jutaan pelanggan.

''Ada pun pelanggan yang kami maksudkan di sini tidak hanya mereka yang menggunakan produk kami, namun juga masyarakat di sekitar kami. Semoga kontribusi yang kami berikan melalui BWM ATQIA dapat memberikan peace of mind bagi masyarakat Lombok,'' ujar Rudy.

Sedangkan, Chief of Astra Financial Adi Sepiarso menambahkan, dukungan yang diberikan Astra Financial melalui kehadiran BWM ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia di berbagai daerah.

Ia menandaskan, lewat program BWM ini, Astra dan Astra Financial akan terus bekerjasama dengan OJK untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Mulai dari pengenalan terhadap Lembaga Jasa Keuangan, karakteristik, manfaat, biaya, serta risiko keuangan. Dengan tujuan untuk membawa perubahan positif pada perilaku keuangan masyarakat.

BMW ATQIA ini diinisiasi oleh PT Astra International Tbk (Astra) dan PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra). Ini merupakan BWM kedelapan yang didirikan oleh kelompok usaha Astra.

BWM merupakan salah satu Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo dan dilaksanakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tujuannya untuk membangun ekosistem inklusi keuangan syariah di lingkungan pesantren.

Selain itu, kehadiran BWM juga diharapkan dapat memberantas rentenir yang selama ini sangat memberatkan masyarakat karena tingginya bunga yang diberikan dan pola pembayaran yang sangat memberatkan masyarakat.

OJK mencatat, hingga akhir 2019 telah berdiri sebanyak 56 BWM di seluruh Indonesia dengan penerima manfaat sebanyak 25.631 nasabah. Sedangkan dana pembiayaannya tercatat sebesar Rp 33,92 miliar atau naik 179,8 secara tahun kalender (year to date/ytd).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, kehadiran OJK sebagai pengawas sektor jasa keuangan harus memberikan manfaat bagi masyarakat melalui penyediaan akses keuangan, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Wimboh menambahkan, OJK juga berkepentingan mendorong literasi dan inklusi, serta membuka akses keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi masyarakat mikro.

Program BWM merupakan sinergi antara OJK, para donatur, LAZNAS, dan tokoh masyarakat setempat, pimpinan Pondok Pesantren atau lembaga pendidikan tradisional.

Skema permodalan BWM terbilang unik. Setiap LKMS menerima dana Rp3 miliar-Rp 4 miliar dari donatur, di mana donatur bisa berasal dari semua kalangan atau perusahaan dengan biaya awal Rp1 juta per orang. Namun, dana itu tidak akan disalurkan seluruhnya menjadi pembiayaan (pinjaman). Dana sebanyak Rp3 miliar selanjutnya didepositokan untuk pengembangan bank dan Rp1 miliar untuk operasional.

Skema dalam BWM dirancang sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat kecil, bukan untuk tumbuh menjadi besar menyaingi lembaga keuangan formal lainnya. Pembiayaan diberikan tanpa bunga, hanya membayar biaya administrasi sebesar 3 persen per tahun dan nasabah tidak perlu memberikan agunan atau izin usaha.

Nasabah hanya memiliki kewajiban untuk mengangsur sekitar Rp20 ribu per minggunya. Calon nasabah juga diberikan pemberdayaan dan pendampingan, baik pengembangan usaha kecil, manajemen ekonomi rumah tangga maupun peningkatan kapasitas dan ruhiyah seluruh nasabah BWM melalui Halaqoh Mingguan (HALMI). (OL-2).

BERITA TERKAIT