20 February 2020, 13:17 WIB

KPK Tegaskan tidak Takut Tangkap Nurhadi


Antara | Politik dan Hukum

WAKIL Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Lili Pintauli Siregar membantah lembaganya takut menangkap mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi (NHD) yang telah masuk dalam status Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Lembaga penegak hukum tidak berani tangkap, ngawurlah. KPK tetap mengupayakan tetapi kan ada hal yang tidak bisa disampaikan ke publik misal cara-caranya tetapi langkah hukum sudah dilakukan dan keluar DPO," ucap Lili di Jakarta, Kamis (20/2).

KPK, kata dia, terus berupaya untuk menangkap Nurhadi meski sampai saat ini belum berhasil.

"Usaha terus dilakukan tim KPK, jika sekarang belum berhasil tetapi tetap tidak berhenti," ucap Lili.

Baca juga: Polri Ingatkan Pihak yang Sembunyikan Nurhadi

Selain itu, ia juga mengaku lembaganya sedang mendalami informasi yang menyebut Nurhadi bersembunyi di salah satu apartemen di Jakarta.

"Informasi tersebut juga sudah diolah tim KPK untuk melakukan pencarian," kata dia.

Selain Nurhadi, KPK juga telah menetapkan status DPO terhadap Rezky Herbiyono swasta atau menantu Nurhadi dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto (HS). Ketiganya merupakan tersangka kasus suap dan gratifikasi terkait dengan perkara di MA pada 2011-2016.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Haris Azhar menyebut Nurhadi dan Rezky mendapatkan proteksi yang mewah sehingga KPK menjadi takut menangkap keduanya.

"Cuma juga mereka dapat perlindungan yang premium, golden premium protection yang KPK kok jadi kaya penakut gini tidak berani ambil orang tersebut dan akhirnya pengungkapan kasus ini jadi terbelengkalai," ungkap Haris di gedung KPK, Jakarta, Selasa (18/2).

Ia pun menyebut bahwa sebenarnya KPK sudah mengetahui keberadaan Nurhadi dan menantunya tersebut. Keduanya disebut tinggal di salah satu apartemen mewah di Jakarta.

"Kalau informasi yang saya coba kumpulkan, bukan informasi resmi yang dikeluarkan KPK. KPK sendiri tahu bahwa Nurhadi dan menantunya itu ada di mana, di tempat tinggalnya di salah satu apartemen mewah di Jakarta," tuturnya.

Namun, ia kembali menyatakan KPK tidak berani untuk menangkap Nurhadi karena apartemen tersebut tidak mudah diakses publik dan dijaga sangat ketat.

"Tetapi KPK tidak berani untuk ngambil Nurhadi karena cek lapangan ternyata dapat proteksi yang cukup serius sangat mewah proteksinya. Artinya, aparteman itu tidak gampang diakses publik lalu ada juga tambahannya dilindungi oleh pasukan yang sangat luar biasa," ujar Haris.

KPK pada 16 Desember 2019 telah menetapkan ketiganya sebagai tersangka.

Dalam perkara ini, Nurhadi dan Rezky ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar terkait pengurusan sejumlah perkara di MA sedangkan Hiendra selaku Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap. (OL-1)

BERITA TERKAIT