20 February 2020, 10:00 WIB

Endometriosis, Nyeri Haid yang Sangat Mengganggu


Eni Kartinah | Humaniora

SEPANJANG usia suburnya, perempuan akan mengalami menstruasi sebulan sekali. Dalam kondisi normal, prosesnya tidak akan banyak berdampak pada aktivitas sehari-hari. Namun, ada sebagian perempuan yang merasakan nyeri perut hebat setiap periode haid tiba. Saking nyerinya, mereka biasanya harus izin tak bisa masuk kantor atau sekolah.

Menurut dokter konsultan fertilitas, endokrin, dan reproduksi dari Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah (RSPI-Pondok Indah), dr Kanadi Sumapraja SpOG-KFER, salah satu penyebab utama nyeri haid ialah penyakit endometriosis atau tumbuhnya jaringan rahim di luar organ rahim.

“Statistiknya, 1 dari 10 perempuan mengalami endometriosis,” ujar dr Kanadi pada diskusi Mengenal gangguan Menstruasi yang digelar RSPI Group di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Penyebabnya ialah retrograde mentruation atau menstruasi terbalik. Yaitu, darah haid yang seharusnya mengalir keluar melalui vagina, justru berbalik hingga masuk ke rongga perut. Dalam darah haid terdapat jaringan rahim yang luruh. Sebagian jaringan rahim yang terbawa dalam aliran darah haid itu lalu menempel di berbagai organ dalam perut.

“Normalnya, sistem dalam tubuh akan membersihkan jaringan tersebut. Tapi, pada penderita endometriosis, sistem ini tidak mampu membersihkan sehingga jaringan rahim itu menempel dan hidup di organ-organ dalam rongga perut,” papar dr Kanadi.

Karena hidup, jaringan itu ‘bertingkah laku’ seperti jaringan rahim yang ada dalam organ rahim. Yakni, menebal pada masa-masa masa praovulasi (menetasnya sel telur), lalu meluruh ketika masuk masa haid. “Ketika meluruh, sama seperti proses menstruasi di rahim, terjadi juga perdarahan di lokasi-lokasi menempelnya jaringan rahim itu. Perdarahan inilah yang menimbulkan nyeri hebat di perut. Ketika periode haid selesai, nyerinya ‘sembuh’. Tapi akan terulang lagi setiap kali haid,” terang dr Kanadi yang juga penanggungjawab Program Pendidikan Subspesialis Bidang Fertilitas, Endokrinologi, Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ganggu kesuburan

Nyeri hebat yang ditimbulkan endometriosis akan mengganggu produktivitas penderitanya. Namun tak hanya itu, perdarahan berulang yang ditimbulkan juga dapat menimbulkan iritasi yang menyebabkan perlengketan-perlengketan organ, hingga memicu deformitas (perubahan bentuk) organ-organ reproduksi seperti indung telur dan saluran telur, yang bermuara pada gangguan infertilitas atau ketidaksuburan. Akibatnya, penderita bakal sulit hamil.

“Karena itulah, endometriosis sebaiknya dideteksi dini dan ditangani sesegera mungkin. Disamping untuk mengatasi nyerinya, juga untuk mencegah iritasi dan perlengketan organ bertambah parah,” kata ddokter yang menyandang gelar Magister Imunologi Reproduksi dari University of Liverpool ini.

Penanganan, lanjut dr Kanadi, dilakukan dengan obat-obatan maupun operasi. “Pendekatan terbaru di dunia kedokteran meminimalkan tindakan operasi. Operasi dilakukan ketika terapi obat-obatan tidak mempan. Operasi menggunakan dilakukan dengan laparoskopi (sayatan minimal) untuk dua indikasi, yakni untuk pasien yang ingin hamil dan untuk pasien yang sudah tidak mau hamil lagi. Pendekatan ini untuk mencegah operasi berulang,” pungkas dr Kanadi.

   

BERITA TERKAIT