19 February 2020, 22:17 WIB

PP Pordasi Datangi Liga Pacuan Kuda Tertua di Indonesia


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Olahraga

DI dalam Olahraga berkuda khususnya di Indonesia, terdapat beberapa nomor yakni Pacuan, Equestrian, Polo dan Berkuda Memanah.

Salah satu komisi yang sangat populer di kalangan masyarakat Sumatera Barat yakni Pacuan.

Sumatera Barat sendiri merupakan salah satu Provinsi yang mendirikan Persatuan Pusat (PP) Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi).

Hingga saat ini, antusias masyarakat pada Pacuan masih sangat tinggi bahkan dengan membayar tiket Rp5.000–Rp10.000 per-orang.

Euforia yang besar dalam menonton Pacuan Kuda membuat Ketua Umum PP Pordasi Triwatty Marciano mendatangi pertandingan tersebut.

Baca juga : Akbar Perkasa dengan 7 Emas di Equestrian Champions League 2020

Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) Pordasi Sumatera Barat yang juga Wali Kota Bukit Tinggi Ramlan Nurmatias menceritakan pentingnya Pacuan Kuda dan euforia masyarakat menontonnya.

“Olahraga ini (Pacuan) bukan milik kelompok, olahraga ini milik kita bersama. Di sini, tua-muda, perempuan-pria, nonton Pacuan. Makan saja dibungkus untuk dimakan sambil nonton Pacuan," ujar Ramlan.

Pertandingan pacuan kuda diselenggarakan di Gelanggang Pacuan Kuda Kubu Gadang Payakumbuh.

PP Pordasi berencana akan mengembangkan potensi olahraga berkuda di Sumatera Barat. Perhatian juga akan diberikan di luar pacuan kuda.

Adapun catatan penting untuk evaluasi Pacuan Kuda kali ini yakni ketertiban penonton. Sampah plastik bertebaran dimana-mana dan penonton masuk ke lintasan menjelang finis. Terlebih jika mengingat jumlah 15.000 penonton yang menikmati aksi sang atlet.

Baca juga : Dorong Bibit Atlet Berkuda Berprestasi Lewat ECL 2020

Kedua hal tersebut tentu membahayakan bagi para atlet maupun kuda yang ditunggangi.

Pasalnya, sampah plastik dapat menyebabkan kuda tergelincir. Kuda yang tergelincir dapat menyebabkan patahnya kaki kuda yang tidak dapat disembuhkan. Ketika tergelincir, joki akan terpental yang dapat menyebabkan kematian.

Masalah kedua adalah penonton yang masuk ke lintasan seakan menyambut kuda di garis finis. Hal tersebut dapat membahayakan penonton dan juga kuda beserta jokinya. (OL-7)

BERITA TERKAIT