20 February 2020, 04:40 WIB

Kenalkan Matematika dengan Cara Sederhana


(Atikah Ishmah/H-2) | Humaniora

MATEMATIKA menjadi mimpi buruk bagi sebagian besar siswa karena dianggap sebagai pelajaran tersulit dan membosankan. Seperti yang dialami Hesti Ekawati, guru kelas 1 SDN Kapas Sari Sumbawa.

Hesti mengalami kendala saat mengenalkan bilangan 1 sampai 10 pada siswanya di awal kelas 1. Dengan menggunakan jari dan menulis di papan tulis, hanya beberapa siswa yang dapat mengerti apa yang diajarkannya.

Akan tetapi, semua berubah ketika Hesti berinovasi dan membuat media pembelajaran sederhana dari kardus dan stik es krim.

Para siswa pun menjadi paham dan senang belajar matematika.

Dengan media kardus dan stik es krim, imbuh Hesti, siswa bisa mengenali angka sembari melatih kemampuan nalar mereka, berbeda dengan metode hitung jari yang murni mengandalkan hapalan.

"Anak-anak lebih tertarik karena mereka suka aneka warna. Dengan kardus dan stik es krim, anak-anak tidak merasa kalau sedang belajar berhitung. Ketika sudah selesai, malah minta belajar lagi." kata Hesti saat ditemui di acara diskusi Pendidikan Temu Inovasi di Kantor Kemdikbud, Jakarta, kemarin.

Pengalaman yang sama juga diutarakan oleh Guru SDN Ngampelsari Sidoarjo Nurul Ainia. Ia memanfaatkan benda-benda di lingkungan sekolahnya seperti tutup botol, daun kering, batu, dan lainnya untuk media pembelajaran matematika.

Dengan belajar di luar kelas, ternyata siswa justru lebih tertarik menyimak dan mudah memahami pelajaran.

"Untuk anak kelas 1 awal kan belum mengerti 3 ditambah 8 berapa. Kadang-kadang pun anak-anak untuk bilangan banyak yang sering terbalik, misalnya 2 jadi Z, angka 9 terbalik menjadi 6 dan seperti itu," tutur Nurul.

Hesti dan Nurul termasuk 325 guru yang mengemban tugas sebagai fasilitator daerah (fasda) Inovasi. Tugas mereka memberikan pelatihan kepada Kelompok Kerja Guru (KKG) agar lebih memahami konsep matematika dan mampu menerapkan pembelajaran yang efektif di sekolahnya.

"Setelah KKG mereka laksanakan di sekolah mereka masing-masing kemudian ada bagian dari kami dari fasda untuk melakukan pendampingan," ungkap Plt Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Totok Suprayitno.

Menurutnya, model pembelajaran yang diterapkan para fasda sesuai dengan konsep Merdeka Belajar yang diinisiasi Kemdikbud. (Atikah Ishmah/H-2)

BERITA TERKAIT