20 February 2020, 04:20 WIB

Digagas 2 Kompetensi Baru Masuk Kurikulum


atikah ishmah winahtyu | Humaniora

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim akan menambah dua kompetensi dasar baru ke dalam Kurikulum 2013. Dua kompetensi itu ialah computational logic dan compassion yang akan melengkapi empat kompetensi yang sudah ada sebelumnya, yakni creativity, critical thinking, collaboration, dan communication atau yang dipopuler disebut 4C.

Penambahan dua kompetensi dasar baru itu, menurut Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbud Awaluddin Tjalla, harus dimasukkan ke kurikulum agar anak siap menghadapi masa depan dan bagi guru bisa mengajar dengan baik. "Komponen ini sebenarnya harus dimiliki. Bukan hanya pada murid, melainkan guru juga. Dua komponen ini disampaikan oleh Mas Menteri (Nadiem Makarim) sebagai komponen penting yang harus ada dalam perspektif kurikulum," terang Awaluddin di sela-sela acara Grow With Google di Perpusnas, Jakarta, Selasa (18/2).

Dijelaskan computational logic ini nantinya harus menjadi sebuah budaya dalam pembelajaran. "Dengan guru yang memiliki kemampuan strategi dalam memecahkan masalah, secara naluriah akan dituangkan di-share dalam bentuk bagaimana dia menginisiasi di dalam mata pelajaran. Computational logic ini juga bukan hanya untuk mata pelajaran matematika, sains," terangnya.

Terkait compassion, ujar Awaluddin, merupakan kompetensi yang harus dimiliki guru ketika mengajar. Compassion sekaligus dapat membangun integritas.

"Guru harus punya minat bakat dan integritas yang tinggi dalam sebuah profesi. Dalam mengajar, guru yang baik ialah yang punya compassion untuk mengajar dengan baik. Artinya, dia mencintai profesinya sebagai pendidik," jelasnya. Untuk itu, guru penggerak yang diusung Nadiem nantinya juga harus menguasai dua kompetensi baru ini dan empat kompetensi yang sudah ada.

Saat ditemui, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Totok Suprayitno membenarkan bahwa pihaknya kini tengah memperbaiki kelemahan yang ada pada implementasinya. "Kami tengah mengkaji model implementasi kurikulum yang tepat agar proses pembelajaran di kelas bisa berjalan lebih efektif, baik bagi guru maupun siswa," ujarnya kemarin. Totok berharap, dari hasil kajian ini nantinya dapat menciptakan program yang mampu menginspirasi guru agar lebih kreatif dalam menyampaikan pelajaran di kelas.

Ekosistem belajar

Data Kemendikbud mencatat sebanyak 30% guru di Indonesia mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ini pun dinilai merupakan salah satu faktor penyebab mutu pendidikan Indonesia tidak kunjung meningkat.

Menurut Staf Khusus Kemendikbud Iwan Syahril, pihaknya saat ini tengah mencari langkah yang tepat untuk meningkatkan kompetensi guru. "Kita lagi mengkaji strategi mengembangkan guru. Kita tahu guru itu faktor yang sangat penting dalam kualitas pendidikan," kata Iwan dalam acara Diskusi Pendidikan Temu Inovasi di Kantor Kemdikbud, Jakarta, kemarin. Oleh sebab itu, dia menilai ekosistem belajar guru perlu dibenahi. (Medcom.id/H-1)

BERITA TERKAIT