20 February 2020, 00:20 WIB

Abdullah Tolak Hasil Pilpres


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN petahana Ashraf Ghani akhirnya dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden Afghanistan. Hasil pemilihan presiden pada September lalu sebelumnya mengalami penundaan karena adanya tuduhan kecurangan.

Ghani terpilih kembali untuk masa jabatan kedua dengan mengumpulkan 50,64% suara. Saingan utamanya, Abdullah Abdullah, yang berada di urutan kedua memperoleh 39,52% suara.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Afghanistan, Hawa Alam Nuristani mengumumkan hasilnya saat konferensi pers di Kabul. Dia mengatakan ada 137.000 suara yang digolongkan sebagai mencurigakan dan 12.012 suara yang diberikan di luar jam pemungutan suara dinyatakan sah selama audit khusus.

“Semoga Tuhan membantunya dalam melayani rakyat Afghanistan. Saya juga berdoa agar perdamaian datang ke negara kita,” kata Hawa, kemarin.

Selain diwarna dugaan kecurangan, partisipasi pemilih kali ini juga merupakan yang terendah dalam pemilu presiden sejak Taliban digulingkan pada tahun 2001. Hanya ada 1,82 juta suara yang dihitung dalam pemilihan tersebut dan hampir satu juta suara tidak sah karena penyimpangan.
Total populasi Afghanistan adalah sekitar 37 juta dengan jumlah pemilih terdaftar sebesar 9,6 juta.
Tingkat partisipasi yang rendah sebagian disebabkan oleh masalah keamanan yang memburuk karena Taliban mengancam akan menyerang tempat pemungutan suara dan menargetkan demonstrasi pemilihan umum sebelum hari pemungutan suara.

Analis politik di Kabul, Habib Wardak mengatakan bahwa masyarakat telah lama kehilangan kepercayaan dalam proses pemilihan presiden di Afghanistan.

“Tingkat partisipasi yang rendah sebagian karena ketidakamanan di beberapa bagian negara yang membuat banyak warga Afghanistan tidak bisa keluar untuk memilih calon mereka,” katanya.

Faktor lainnya, kata dia, rakyat Afghanistan telah kehilangan harapan dalam proses pemilihan tersebut, seperti adanya masalah korupsi dan kecurangan.


Hasil ditentang

Pesaing Ghani yakni Abdullah langsung menentang hasil pemilihan tersebut. Bertugas sebagai kepala eksekutif pada era Ghani sebelumnya, Abdullah kini justru menyatakan kemenangannya dan bersumpah untuk membentuk pemerintahan paralelnya sendiri.

Pemilihan pada 28 September itu, kata Abdullah, dinodai oleh kecurangan yang masif dan masalah teknis.

Abdullah lalu menolak hasil Pilpres tersebut dan mendeklarasikan kemenangannya. “Tim kami, berdasarkan suara bersih dan biometrik, adalah pemenangnya dan kami menyatakan keluar sebagai pemenang. Kami mengumumkan pemerintah inklusif kami,” katanya dalam konferensi pers di Kabul.

Kondisi ini mengulangi hasil pemilu 2014 ketika Ghani dinyatakan sebagai pemenang dan Abdullah memprotesnya.

Saat itu, para pendukung Abdullah lalu berunjuk rasa yang berujung bentrokan. Akhirnya Amerika Serikat di masa Presiden Barack Obama turun tangan dan mengajak kedua kubu membuat kesepakatan.

Namun kini pemerintah AS, yang tengah bernegosiasi dengan Taliban soal penarikan mundur pasukan AS, tidak lagi terlalu tertarik akan politik di Afghanistan.

Tidak hanya Abdullah, penolakan hasil pemilu juga disampaikan oleh Taliban yang menyebutnya sebagai hal ilegal dan bertentangan dengan proses perdamaian. (AFP/BBC/Aljazeera/X-11)

BERITA TERKAIT