19 February 2020, 13:55 WIB

Relawan Dukung Sikap Kritis, Tapi Menolak Hoaks dan Fitnah


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

BEREDARNYA tuduhan korupsi Jiwasraya yang melibatkan Moeldoko dinilai sebagai bentuk fitnah dan hoaks. Para relawan pendukung Jokowi memandang tuduhan tersebut tidak berdasar dan mengada-ngada,

"Sikap dan pandangan kritis dari siapapun warga bangsa terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan menuju Indonesia maju pastilah diperlukan, dan pasti sangat dihargai, termasuk dari relawan dan bahkan elemen partai pendukung presiden," kata relawan, aktivis Jokowi Maruf Amin Menang Total (Join Metal), Teddy Syamsuri HS, kepada media di Jakarta, Rabu (19/2).

Menurut Teddy, saat kampanye Pilpres 2019, rakyat telah merasakan betapa ujaran kebencian, hoaks dan fitnah telah sangat menyesakkan dada, melukai akal sehat. Tindakan tidak terpuji itu hampir memecah belah persatuan-kesatuan nasional sebagai bangsa dan NKRI.

"Setelah usai Pilpres, di periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi, tidak hanya relawan dan elemen partai pendukung, tetapi seluruh rakyat Indonesia pasti sudah muak dengan rekayasa kabar bohong, hoaks, fitnah atau ujaran kebencian. Rakyat ingin damai dan fokus menata masa depan," tutur Taedy..

Teddy mensinyalir ada satu dua orang terutama di elite organ relawan yang tidak ikhlas dan menjadi relawan dengan ada pamrih dari gerakan kerelawannya. Ada tendensi reward jabatan yang diimpikan, sehingga ketika tidak terakomodasi malah berbalik menyerang

"Saya mengaku tidak habis pikir, ketika tiba-tiba ada orang-orang yang mengaku relawan kemudian melemparkan tuduhan ke publik, sebut saja Aznil Tan yang menuduh Kepala Staf Presiden, Jenderal Purn. Moeldoko terkait dengan kasus korupsi Jiwasraya." jelas Teddy,

"Dia menuduh bahwa Moeldoko adalah kaki tangan SBY, ada lagi Haidar Alwi menuduh Moeldoko juga terkait dengan korupsi di PT. Asabri bersama BN, anak mantu orang nomor satu negeri ini,  bukan hanya Relawan, tetapi seluruh warga bangsa tersentak," ujarnya.

Teddy melihat tuduhan-tuduhan itu tidak disertai bukti yang valid dan kuat, karena Kejaksaan Agung sendiri sudah mengusut kasus Jiwasraya dan menetapkan enam tersangka, tidak ada nama Moeldoko.

"Wajarlah kalau rakyat dan relawan menanggapi tuduhan yang disebarkan itu hoaks, halusinasi dan fitnah, dan tentu saja Rakyat dan Relawan  menjadi sangat marah," tegas Teddy.

Menurut Teddy, Aznil Tanjung dan Haidar Alwi sudah bikin kegaduhan baru yang bersumber dari analisa halu dan rekayasa kabar bohong, setelah rakyat sudah muntah-muntah dengan suasana penuh hoaks ketika Pilpres 2019 lalu.

Teddy Syamsuri  mencontohkan ketika Jokowi merekrut Ali Muchtar Ngabalin serta merekrut Prabowo di jajaran kabinetnya apakah akan dikatakan bahwa Jokowi sedang membantai dirinya sendiri? "Faktanya ternyata kinerja mereka banyak justru banyak diapresiasi Rakyat," ucapnya.

"Rakyat percaya bahwa Presiden Jokowi sangat teliti dan hati-hati dalam memilih para pembantunya, beliau tentu sudah mengecek segala sesuatunya ketika berketetapan  memberikan Jabatan Kepala Staf Presiden kepada Moeldoko," paparnya.

Mengakhiri pendapatnya, Teddy Syamsuri menegaskan, ketika tuduhan korupsi tidak disertai data-data akurat, maka rakyat dan relawan menilai semua itu hanyalah fitnah dan hoaks (OL-09)

 

BERITA TERKAIT