19 February 2020, 10:52 WIB

NasDem Pertanyakan Metode Survei Negara Institute


Rifaldi Putra Irianto | Politik dan Hukum

PARTAI Nasional Demokrat (NasDem) mempertanyakan hasil riset Negara Institute yang menyatakan 17,22% hasil pemilihan DPR RI dari Pileg 2019 terpapar dinasti politik, dimana Nasdem menjadi paling terpapar dinasti politik.

"Menurut saya, kalau memang hasil surveinya seperti itu kita perlu mempertanyakan metodologi surveinya, jadi harus dikaji ulang," kata Sekertaris Fraksi Partai NasDem, Saan Mustofa, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa, (18/2).

Karena menurut Saan, partainya merupakan partai yang terbuka terhadap apapun, mulai dari rekrutmen kepengurusan partai hingga rekrutmen pejabat publik dari tingkat pusat hingga daerah.

Oleh karenanya, ia mempertangakan hasil survei dan kredibilitas dari lembaga Negara Institute.

"Apalagi ini kan lembaga survei baru yang kita belum tahu kredibilitas lembaga surveinya," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Nagara Institute Akbar Faisal yang juga mantan anggota Komisi III DPR RI Fraksi Nasdem menyatakan, sebanyak 99 dari 575 anggota legislatif terpilih memiliki hubungan dengan pejabat publik. Mereka dianggap terpapar oligarki politik.

"Partai Nasdem menempati peringkat teratas dalam persentase anggota legislatif yang terpapar dinasti politik," ujar Akbar Faisal.

Dengan perolehan sebanyak 59 kursi, NasDem meloloskan 20 orang atau 33,90 persen anggota yang terpapar politik dinasti. Sementara, enam dari 19 anggota legislatif dari Partai PPP terpapar oligarki, atau sebesar 31,58%.

Berikutnya, 18 dari 25 anggota DPR dari dari Partai Golkar terpapar oligarki, atau sebesar 21,18%. Sebanyak 18,52% atau 10 dari 54 anggota DPR dari Demokrat juga dinilai terpapar dinasti politik. Sebanyak delapan dari 44 atau 18,18% anggota DPR dari Partai PAN juga terpapar. (Rif/OL-09)

BERITA TERKAIT