19 February 2020, 06:10 WIB

Berbagi Cerita, Mahasiswa dari Wuhan Kunjungi MPR


(Dmr/H-2) | Humaniora

SEJUMLAH mahasiswa yang dievakuasi dari Wuhan, Tiongkok, dan selama 14 hari dikarantina di Natuna, Kepulauan Riau, mendatangi Kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, di Gedung Nusantara 3 DPR/MPR, Jakarta, kemarin. Mereka memberikan sejumlah masukan kepada pemerintah dalam mengantisipasi penularan wabah virus korona baru (covid-19).

Fani, mahasiswa semester 1 Universitas Wuhan, mengatakan pemerintah perlu memeriksa orang-orang yang masuk ke Indonesia lewat Thailand. Menurutnya, itu salah satu modus yang dilakukan sejumlah orang agar keluar dari Tiongkok untuk bisa masuk ke Indonesia tanpa pemeriksaan yang ketat.

"Ada beberapa kenalan yang saat di sejumlah bandara di Tiongkok belum di-lock down tidak langsung ke Indonesia. Mereka ke Thailand dulu, baru terbang ke Indonesia. Mereka bisa tidak melalui pemeriksaan yang ketat," jelasnya.

Dia berharap petugas di bandara bisa lebih ketat lagi dalam meneliti riwayat perjalanan para penumpang pesawat untuk membatasi kemungkinan penyebaran covid-19 antarnegara, khususnya di Asia.

Pascakarantina di Natuna, ia juga menegaskan bahwa mereka saat ini benar-benar sehat. "Sejauh ini masyarakat di lingkungan kami menerima kami dengan baik. Demikian juga dengan aparat pemda," ujar Fani.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyambut baik informasi yang diberikan oleh Fani dan beberapa rekannya yang lain. Setelah mendengar cerita dari pengalaman para mahasiswa, Lestari mengusulkan agar pengalaman mahasiswa itu dibuat dalam bentuk buku.

"Pengalaman yang jarang ini bisa dibagikan ke masyarakat luas agar lebih mewaspadai dampak virus convid-19 ini," ungkap Rerie, panggilan akrabnya.

Ia menyampaikan kepulangan mahasiswa Indonesia dari Tiongkok merupakan kerja sama yang solid antara Kementerian Luar Negeri RI, anggota legislatif, dan swasta dalam memperlancar proses pemulangan para mahasiswa dari Wuhan. (Dmr/H-2)

BERITA TERKAIT