19 February 2020, 06:00 WIB

Menyibak Tabir COVID-19


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

ANGGAPAN bahwa orang Indonesia kebal virus korona baru, terbantahkan, saat tiga dari 78 warga negara Indonesia (WNI) kru kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina di perairan Yokohama, Jepang, positif terinfeksi, kemarin.

Dengan temuan itu, kasus virus korona dari kapal pesiar tersebut menjadi 446. Padahal, pada 12 Februari 2020 atau sepekan sebelumnya, seluruh WNI di kapal itu dinyatakan sehat.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menjelaskan virus tidak stabil pada struktur DNA sehingga mudah berubah dipengaruhi faktor cuaca, ultraviolet, juga kelembapan.

"Virus adalah makhluk dengan tingkat evolusi paling rendah. Ia hanya bisa hidup di dalam sel yang hidup. Jika mati, otomatis virus akan mati pula," ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, virus korona ada ribuan jenisnya, yang secara umum banyak didapatkan pada berbagai hewan. Karena mutasi genetik, imbuhnya, virus bisa menimbulkan penyakit pada si hewan, juga pada manusia manakala proses mutasi sesuai dengan reseptornya. Severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS), misalnya.

"Virus korona ada di mana-mana dengan jumlah ribuan, tapi tidak bisa langsung berkembang di dalam tubuh manusia dan bertahan tanpa reseptor," cetusnya.

Reseptor merupakan tempat virus berkembang biak lalu menyerang tubuh. Di manusia reseptor virus terdapat di saluran pernapasan dan saluran cerna.

COVID-19 menular antarmanusia lewat droplet atau cairan air liur yang bisa menyebar lewat batuk atau bersin. Ada tiga mekanisme ketika sebuah virus dapat masuk ke sel inang, yakni lewat fusi membran virus dengan membran sel target pada inang, endositosis virus oleh selaput permukaan sel inang, dan penetrasi materi genetik jenis virus ke dalam sel inang. Tiap virus memiliki cara tersendiri memasuki sel inang.

Sederet hasil studi menemukan bahwa virus korona pada kasus SARS dan MERS masuk ke sel inang melalui reseptor angiotensin-converting enzyme (ACE)-2, suatu protein yang terdapat di dalam inang, terutama paru, hati, dan ginjal.

Senada, pakar virologi yang juga spesialis mikrobiologi RSUI, dr R Fera Ibrahim, mengatakan reseptor ialah alasan mengapa korban virus korona baru lebih banyak menimpa laki-laki.

Menurutnya, hal itu berhubungan dengan jumlah reseptor ACE2 yang lebih banyak dimiliki laki-laki ketimbang wanita.

Siapkan vaksin

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, menolak berspekulasi soal alasan belum ditemukannya kasus positif COVID-19 di Indonesia. Menurutnya, yang tengah dilakukan Eijkman saat ini ialah menginisiasi pengembangan vaksin COVID-19 bersama BUMN PT Biofarma.

"Kami sudah bersepakat untuk berupaya mengembangkan vaksin untuk coronavirus yang kedua ini," tutur Amin di Gedung DPR, Senin (17/2).

Karena belum memiliki sampel COVID-19, pihaknya akan menerapkan kajian in-silico (menggunakan komputer) untuk mengindentifikasi bagian-bagian antigenik virus korona berdasarkan informasi genetik di GeneBank.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Penny K Lukito menyatakan siap mendampingi pengembangan vaksin COVID-19 di Indonesia cepat diedarkan. "Kami akan mendampingi dari awal," kata Penny, kemarin. (Ata/Ifa/Ant/H-2)

BERITA TERKAIT