18 February 2020, 21:20 WIB

Dampak Korona Ke Ekonomi Indonesia Hanya Sampai Semester I


Antara | Ekonomi

Chief Economist and Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan memprediksi dampak virus korona terhadap ekonomi nasional tidak akan lama, dan hanya dirasa pada semester I/2020, karena polanya sama seperti epidemik virus lainnya, yakni seperti SARS dan MERS.
 
"Jadi pada kuartal II akan ada harapan apabila polanya sama mengikuti kasus penyakit sebelumnya. Hanya saja belum dapat dipastikan berapa panjang waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian virus baru tersebut," kata Katarina di Surabaya, Selasa (18/02).

Bahaya, Dampak Virus Tekan Ekonomi Indonesia
 
Dalam acara Standard Chartered 2020 Academy fo Media, dia mengatakan, dampak korona yang negatif tidak akan signifikan jangka panjang sehingga kemungkinan penurunan saham yang terjadi saat ini bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk membeli pada harga yang lebih murah.
 
"Prediksi ini kalau kita asumsikan seperti kasus penyakit sebelumnya, dan dampak corona kemungkinan satu kuartal, dan terhadap pasar saham kemungkinan empat bulan paling buruknya," katanya.
 
Ia mengakui, reaksi awal pasar terhadap korona cenderung negatif, hal ini karena adanya faktor ketidakpastian, sehingga muncul sentimen negatif.
 
"Pasar kami perkirakan mereda setelah intensitas penyebaran virus turun, dan investor menganalisa kembali dampak riil dari wabah terhadap
ekonomi dan earnings perusahaan," katanya.
 
Ia menilai, dampak korona secara global paling banyak menyasar sektor pariwisata baik ritel, transportasi, hotel dan restoran.
 
"Untuk Indonesia cukup beruntung, karena selama ini tidak terlalu banyak bergantung pada sektor pariwisata lantaran sektor ini hanya
berkontribusi 1,8% dari total Produk Domestik Bruto (PDB)," tuturnya.
 
Katarina mengaku, posisi Indonesia masih lebih baik dibanding Thailand yang 12% PDB nya masih bergantung pada pariwisata.
 
"Yang diperlu dicermati oleh investor adalah dampaknya terhadap pergerakan harga komoditas yang memiliki pengaruh pada pasar saham dan
ekonomi Indonesia," katanya.
 
Sebelumnya, korona juga menyebabkan impor Jatim dari China turun 16,44%, dengan dominasi komoditas sayuran dan buah-buahan, akibatnya
mendorong turunnya total impor Jatim selama Januari 2020, dengan total penurunan 1,08%, yakni dari US$2,05  juta  pada Desember 2019, menjadi US$2,02 juta pada Januari 2020.(Ant/E-1)

BERITA TERKAIT