18 February 2020, 20:36 WIB

Pemerintah Didorong Modernisasi BUMN Jadi Lokomotif Baru Ekonomi


Abdillah Muhammad Marzuqi | Ekonomi

ANGGOTA Komisi VI DPR Marwan Jafar mendorong pendekatan baru guna menjadikan BUMN sebagai lokomotif baru ekonomi nasional.

Pendekatan itu diyakini akan mampu memberikan arah modernisasi BUMN dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya, sebut Marwan, melalui holdingisasi, restrukturisasi, manajemen resiko hingga modernisasi perusahaan BUMN dengan memanfaatkan kecerdasan bisnis, kecerdasan buatan, internet segala hal, data besar (big data) dan teknologi robotik. Hal itu diungkapkan Marwan Jafar Selasa (18/2).

"Saya mendukung sepenuhnya kalau pemerintah bertekad menjadikan BUMN sebagai lokomotif baru perekonomian nasional sekaligus mampu bersaing di tataran global. Buat pembanding saja, kita bisa menengok kinerja mendunia oleh semacam 'BUMN' di Malaysia melalui institusi bisnis Khazanah atau Temasek di Singapura yang relatif sudah mampu memanfaatkan serta mengoptimalkan berbagai kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan yang tadi saya sebutkan," ujar Marwan.

Ia mengingatkan, hanya dengan cara memanfaatkan sejumlah keunggulan pengetahuan dan teknologi tersebut, maka segenap potensi sumber daya alam seperti energi, air dan pangan serta sumber daya manusia Indonesia akan mampu menjadikan BUMN sebagai lokomotif baru perekonomian nasional yang berani bersaing di level global.

"Sudah waktunya pula kita beranjak dari model-model bisnis yang konvensional, banyak jebakan teknis serta bersifat artifisial belaka," tandasnya.

Namun demikian, tambahnya, jati diri bangsa khususnya terkait tugas sosial BUMN jangan terlupakan. Artinya, BUMN tetap wajib nasionalis dan prokerakyatan serta berkontribusi besar mengurangi kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat yang masih cukup lebar.

Menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa itu (PKB), soal kemiskinan tersebut saat ini sudah jadi masalah global yang bukan hanya melanda Indonesia.

Buktinya, penghargaan Nobel Ekonomi tahun 2019 lalu yang diraih Abhijit Banerjee ekonom Amerika yang lahir di India dan istri yang berkebangsaan Perancis-Amerika Esther Duflo, serta ekonom Michael Kremer karya-karyanya dinilai solutif mengatasi kemiskinan.

"Panitia Nobel Swedia menyatakan, para pemenang ini memperkenalkan pendekatan baru untuk menemukan jawaban yang dapat diandalkan tentang cara terbaik memerangi kemiskinan global. Ketiganya menemukan cara baru yang lebih efisien untuk memerangi kemiskinan dengan memecahkan persoalan sulit menjadi lebih sederhana dan lebih mudah ditangani," pungkas mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi itu. (OL-8)

BERITA TERKAIT