19 February 2020, 03:05 WIB

Keira Knightley Kesadaran atas Kesetaran


Atalya Puspa | Hiburan

AKTRIS Keira Knightley, 34, mengaku mempunyai dua anak perempuan membuat dirinya menjadi lebih sadar akan hak-hak perempuan dan isu-isu terkait, seperti gerakan #Metoo yang menyerukan pelanggaran seksual di industri hiburan, politik, dan bisnis.

"Hadirnya media sosial, aku benar-benar khawatir tentang hal itu. Aku khawatir tentang jenis pencitraan yang akan ditangkap anak-anak," jelas Knightley kepada Reuters, kemarin.

Ia menceritakan pengalaman ketika sedang berkumpul dengan teman-temannya yang bukan dari industri hiburan. Ia terkejut mengetahui hampir semuanya pernah mengalami pelecehan seksual. "Bukan hanya aktris. Ada guru, pengacara. Bukan perkosaan, tapi kita tidak bisa menganggapnya sebagai hal yang normal," jelas perempuan yang bermain dalam serial Pirates of the Caribbean tersebut.

Knightley menyebutkan dirinya tertarik dengan tema-tema seperti feminisme dan rasialisme karena memiliki resonansi yang berkelanjutan di dunia nyata yang mana kesetaraan masih terasa jauh.

Ia menambahkan, film barunya yang berjudul Misbehavior diangkat dari kisah nyata tentang bagaimana Gerakan Pembebasan Wanita yang mengganggu kompetisi Miss World 1970, terasa relevan pada saat orang-orang masih berjuang untuk perlakuan yang sama.

Dalam Misbehaviour, Knightley berperan sebagai anggota Gerakan Pembebasan Wanita yang menyerbu panggung teater London, tempat kontes kecantikan diadakan. Pada tahun itu, gelar Miss World diraih peserta asal Grenada yang merupakan pesaing kulit hitam pertama yang berhasil merebut mahkota.

"Apa yang aku sukai dari film ini adalah dialognya yang terasa sangat relevan dengan apa yang kita bicarakan saat ini di kehidupan nyata," imbuh Knightley yang juga bermain di panggung teater Broadway.

Namun, Knightley percaya sudah ada kemajuan zaman yang terjadi dan film tersebut dibuat untuk memberikan penghormatan kepada para perempuan. "Saya pikir kita harus menghormati dan mengingat para perempuan yang menciptakan kemajuan besar jauh sebelum kita," katanya.

 

Aktivis

Knightley bergabung dengan gerakan Time's Up yang menyuarakan tentang pelecehan seksual yang tumbuh subur dalam industri hiburan pda 2018. "Aku sangat bangga menjadi salah satu katalis di Ingggris untuk gerakan Time's Up dan melihat hasil kerja kami," ujarnya.

Ia mengungkapkan, Time's Up merupakan hal yang harus dilakukan. Jangan sampai hal tersebut hanya menjadi berita yang lewat dan kemudian menghilang. Kupikir setiap orang menginginkan perubahan yang nyata," jelas Knightley.

Ia mengatakan, menggalang dana secara resmi untuk gerakan tersebut menjadi hal yang penting. "Adanya kesadaran bahwa skala pelecehan seksual sangat luas, tidak hanya dalam industri film, tapi setiap industri, akan mendorong banyak pihak melakukan hal yang positif sehingga hasilnya juga positif," tandas Knightley yang mendapatkan gelar Order of the British Empire dari Kerajaan Inggris pada 2018.

Knighley juga dikenal aktif terlibat dalam Amnesty International. Awal Februari 2020, ia turut mengampanyekan pencarian sosok yang menginspirasi dan aktif dalam menyuarakan hak asasi di Inggris. Sebelumnya, Amnesti Inggris meluncurkan Brave Awards, penghargaan untuk masyarakat umum yang membuat perubahan dalam komunitas mereka di Inggris. "Dekade ini akan membawa banyak tantangan. Namun, ada satu pelajaran yang dapat kita petik dari 2019, bahwa orang yang membawa perubahan apa pun sangat berharga, dan jika kita melihat, banyak pembawa perubahan di sekitar kita," ujarnya.

"No act is too small to create change. Pada 2020, mari kita hargai setiap aksi kemanusiaan," tandasnya. (Ant/H-3)

BERITA TERKAIT