19 February 2020, 01:05 WIB

Assad Tetap Gempur Idlib


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Suriah Bashar al-Assad bersumpah bahwa pasukannya tidak akan berhenti menyerang dan mengusir pemberontak dari markas terakhir mereka di Suriah utara.

Pidatonya di televisi pemerintah itu datang bahkan ketika Kepala Koordinator Kemanusiaan PBB Mark Lowcock menyampaikan kembali permintaan dilakukannya gencatan senjata di wilayah Idlib.

“Pertempuran untuk pembebasan provinsi Aleppo dan Idlib berlanjut, terlepas dari semua omong kosong yang datang dari utara,” kata Assad, merujuk pada peringatan oleh Turki, kemarin.

“Kami telah mendapatkan kemenangan atas ketakutan yang mereka coba tanamkan dalam hati kami ... tetapi kami sepenuhnya sadar bahwa pembebasan ini bukanlah akhir dari perang,” kata Assad.

“Pembebasan ini jelas berarti kita telah menghancurkan kekuatan mereka, sebagai awal kekalahan total yang akan datang cepat atau lambat,” katanya.

Dalam beberapa minggu terakhir, pasukan Suriah dan pasukan sekutu yang didukung oleh Rusia telah meningkatkan serangan mereka terhadap kelompok pemberontak dan jihadis di Idlib dan provinsi tetangga Aleppo.

Mereka telah merebut kembali sebagian besar wilayah Idlib serta area-area utama yang telah mengamankan jalan utama M5 yang menghubungkan empat kota terbesar negara itu serta seluruh daerah sekitar kota Aleppo untuk pertama ka­linya sejak 2012.

Pasukan Assad juga berupaya merebut posisi strategis di pegunungan Sheikh Barakat.
Sementara itu, insiden mematikan antara pasukan rezim dan Turki yang mendukung pemberontak telah meningkatkan ketegangan di dekat perbatasan utara Suriah. Kejadian itu juga mendorong Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam Damaskus.


Krisis kemanusiaan

Kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan telah menyerukan penghentian permusuhan di barat laut Suriah, tempat sekitar tiga juta orang terperangkap di markas pemberontak.

Mark Lowcock mengatakan setidaknya sekitar 900 ribu orang telah mengungsi sejak Desember.
Tidak pernah ada begitu banyak orang yang terpaksa mengungsi dalam jangka waktu yang sama sejak kon­flik meletus hampir sembilan tahun lalu.

Perang Suriah dianggap telah menyebabkan gelombang pengungsian terbesar sejak Perang Dunia II. “Kekerasan di barat laut Suriah tidak pandang bulu. Fasilitas kesehatan, sekolah, tempat tinggal, masjid dan pasar telah hancur,” kata Lowcock.

Dia mengatakan bahwa penghancuran infrastruktur dasar dan fasilitas kesehatan itu meningkatkan risiko munculnya wabah penyakit.
Rusia, broker asing utama di Suriah, telah memveto resolusi yang tak terhitung jumlahnya soal Suriah. “Satu-satunya pilihan adalah gencatan senjata,” kata Lowcock.

Juru Bicara PBB, David Swanson menyatakan krisis kemanusiaan di Suriah akan terus memburuk jika tidak terjadi gencatan senjata.
“Dalam empat hari terakhir saja, sekitar 43 ribu pengungsi baru telah datang dari wilayah pertempuran,” ungkap Swanson.

Korban juga berjatuhan dari kalangan anak-anak dan perempuan yang terpaksa tinggal di penampungan da­rurat dan diterpa suhu yang begitu dingin. (AFP/X-11)

 

 

BERITA TERKAIT